Jelajah

Membayangkan Ali Moertopo

0 10

Pada sebuah malam usai buka puasa di tahun 2017. Di sebuah warung kopi di jalanan kota Merauke yang mulai merangkak ramai. Seorang bapak menghampiri meja tempat saya melahap pisang goreng dan segelas classic cocoa. Wajahnya memelas. Meminta dua lembar sepuluh ribu rupiah.

“Permisi, minta maaf. Saya baru habis kena malaria. Kaki saya bengkak. Saya mau pulang naik angkot. Bisa minta uang kah?”

Tanpa pikir panjang, saya segera memberi kepada bapak itu sembari berpesan agar berhati-hati di jalan. Ia berterima kasih dan mendoakan kami sesuai agama yang ia anut, lalu berlalu menyusuri trotoar.

Sebagai seorang melayu, saya sebenarnya malu pada bapak itu. Di tanahnya sendiri, tanah leluhurnya, sudah seharusnya ia bisa mandiri dan berdikari; berdiri di atas kakinya sendiri. Tapi kenyataan berkata lain, di tanahnya ia malah tersingkir. Lebih tepatnya, disingkirkan.

Di tanah bapak itu, tempat dimana bersemayam kearifan-kearifan dan kekayaan pengetahuan tentang alam, kini bertransformasi layaknya revolusi industri di Inggris yang kemudian menyebar ke dataran Eropa.

Di sini, ketamakan perusahaan-perusahaan ekstraktif berhasil mengokupasi lahan-lahan masyarakat adat.

Bahkan, sebuah proyek raksasa bernama Mifee (Merauke Integrated Food and Energy Estate) berdiri angkuh. Atas nama kedaulatan pangan dan energi dan sebuah ambisi besar yang ingin kembali ke masa kejayaan Soeharto di tahun 80-an; swasembada beras.

Tak tanggung-tanggung, 1,2 juta hektar lahan dibuka di Merauke dijadikan lahan pertanian untuk menangkal impor beras yang menjadi problem bangsa selama ini. Mifee dianggap sebagai solusi pemenuhan beras bagi negara Indonesia.

Dengan kata lain, lahan pertanian yang dibangun atas penderitaan orang-orang Malind yang mendiami wilayah-wilayah adat di Kabupaten Merauke itu, tujuannya hanya untuk memberi makan perut-perut orang Indonesia pemakan nasi. Dan tentu saja, sagu yang menjadi makanan pokok orang Malind, hanya akan menjadi dongeng-dongeng pengantar tidur di masa datang.

Dan entah kenapa, wajah Ali Moertopo yang saya bayangkan ketika duduk di pinggiran rawa Taman Nasional Wasur kemarin siang, kembali hadir dan berkeliaran di otak saya malam ini.

Ali Moertopo adalah seorang militer loyalis dan tangan kanan Soeharto. Tokoh penting di era orde baru dan pernah menjadi Menteri Penerangan.

Ali Moertopo ditugaskan khusus oleh Seoharto pada tahun 1964, untuk membereskan masalah di Papua yang tidak ingin bergabung dengan Indonesia, hingga berakhirnya Pepera di tahun 1969.

Salah satu kalimat yang keluar dari mulut Ali Moertopo dan terus saya ingat sampai sekarang adalah, “Indonesia tidak menginginkan orang Papua. Yang Indonesia inginkan adalah tanah dan sumber daya alam yang terdapat di Papua.”

Apa yang diucapkan Ali Moertopo ada benarnya dan selaras dengan kondisi saat ini. Lihatlah, tambang raksasa dunia bernama Freeport. Hanya ada di Papua. Di susul proyek pertanian, perkebunan, hingga energi. Semuanya ada di sini.

Tapi, tengoklah setiap tahun laporan Badan Pusat Statistik. Siapakah peringkat pertama dan kedua penduduk termiskin di Indonesia? Jawabannya adalah Papua dan Papua Barat. Itu sudah!

About the author / 

Christopel

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip