Jelajah

Digoel, La Historia Me Absolvera

0 20
Patung Mohamad Hatta di Boven Digoel.

Patung Mohamad Hatta di Boven Digoel.

Melihat Digoel adalah melihat masa lampau. Di sini, patung Bung Hatta berdiri tegak tak jauh dari bandar udara Tanah Merah. Telunjuk kanannya menunjuk ke bawah seolah berkata, “Saya pernah di tahan di sini”.

Ia membelakangi barak tua sipir Belanda, yang kini jadi tangsi polisi. Di sebelahnya, dua blok tembok penjara berkawat duri.

Di penjara utama, puluhan tahanan tidur di atas dipan, dengan atap berkawat listrik. Beberapa sel memiliki kapasitas satu atau tiga orang, dengan ruangan pengap. Salah satu ruang, ada lemari yang didalamnya tersusun cangkir-cangkir tua. Di luar blok penjara pria, ada penjara wanita, kini jadi gudang buku, kotor, dan tak terawat.

Inilah penjara Digoel. Jauh sebelum rezim Soeharto menyiapkan Pulau Buru di Kepulauan Maluku sebagai buangan bagi mereka yang dituduh komunis, kolonial Belanda sudah membuat penjara alam yang mengerikan di ujung Indonesia. Belanda menamai wilayah ini, Boven Digoel. Ia disebut-sebut sebagai kamp konsentrasi pada masa itu, 1927.

Tapi di Digoel, tak ada penyiksaan selayaknya kamp konsentrasi Nazi Jerman. Penjara sesungguhnya yang mengerikan di Digoel adalah tutupan pohon rapat dan tegakan tinggi menjulang serta sungai yang meliuk-liuk. Alam adalah tembok yang kokoh. Tak ada yang bisa melewatinya. Tahanan akan stres dengan sendirinya. Mereka harus melawan gigitan nyamuk malaria yang membuat mereka tersiksa, hingga mengalami gangguan jiwa.

Dan pada akhirnya menjemput kematian mereka dengan caranya masing-masing.

Ada yang mencoba melarikan diri; menembus hutan, menyeberangi sungai, bertemu hewan buas. Tapi apa lacur?

“Semuanya sia-sia. Mereka akan mati di hutan,” kata Selsius Warem, penjaga situs penjara Digoel.

Sejak dibangunnya penjara Digoel, pemerintah kolonial Belanda tak lagi membuang para tokoh pergerakan Indonesia ke luar negeri. Selain Bung Hatta, tokoh yang dipenjara di Digoel adalah Sutan Syahril, Mas Marco Kartodikromo, seorang pewarta yang pertama kali mendirikan organisasi jurnalis; Inlandsche Journalistenbond (IJB). Lalu ada nama Thomas Najoan, Ketua Pengurus Besar Sarekat Buruh Percetakan di Surabaya yang berafiliasi dengan PKI, serta beberapa nama tokoh lainnya.

Thomas Najoan tercatat empat kali berupaya melarikan diri dari penjara alam Digoel. Tapi setiap kali percobaannya selalu gagal. Hingga percobaan kali keempat, justru menjadi percobaan terakhir dan merenggut nyawa tahanan asal Manado itu. Sementara Mas Marco Kartodikromo, jurnalis dan seorang pembaca marxist yang baik meninggal karena TBC.

Penjara Hatta sendiri berada di Tanah Tinggi, yang harus ditempuh dengan naik speedboat di hulu sungai Digoel sekira sejam. Namun warga setempat bilang, penjara Hatta yang dibuat menyerupai rumah papan itu, kini sudah tak ada lagi.

“Di penjara ini ada banyak orang-orang komunis yang di tahan Belanda. Bung Hatta tidak ditahan di Tanah Merah,” ucap Selsius.

Saya pertama kali melihat potret alam Digoel dari ekspedisi dua jurnalis, Ahmad Yunus dan Farid Gaban yang bertajuk Zamrud Khatulistiwa. Ekspedisi via motor bekas yang sudah dimodifikasi itu melahirkan buku “Meraba Indonesia”, ditulis oleh Ahmad Yunus sendiri.

Perjumpaan dengan Ahmad Yunus dan Farid Gaban ketika keduanya mampir ke Gorontalo. Saya menjemput mereka di Pelabuhan Ferry. Sejak itu, saya terus mengikuti kabar kemana sepeda motor keduanya memacu, dan membaca setiap narasi yang mereka ciptakan.

Hingga pada satu perjalanan di pojok Indonesia, Ahmad Yunus menulis tentang Boven Digoel, dan Farid Gaban mengabadikan lewat lensanya. Foto-foto Farid Gaban dan Ahmad Yunus menampilkan bagaimana sulitnya mobil melewati lumpur tanah merah di Boven Digoel.

Dan pada ramadhan ke 18 di tahun 2017 ini, saya seperti melihat jejak ekspedisi Zamrud Khatulistiwa ketika melewati jalanan berlumpur itu. Mobil yang kami tumpangi dari Tanah Merah menuju Distrik Jair di kampung Asika, harus tertahan hingga sejam lamanya.

Marcus, sopir yang membawa kami bahkan harus saling membantu mobil yang tak bisa melewati lumpur. Di belakang kami, mobil angkot berwarna seperti kendaraan dinas kantor pos, ikut tertahan.

“Biasa mereka bawa kompor dan belanga. Jadi kalau lumpur tak bisa dilewati, mereka tidur dan memasak di situ. Kalau hanya satu hingga dua minggu tertahan, itu sudah biasa,” kata Marcus.

Karena sering tertahan lumpur hingga berminggu-minggu itu, sopir lainnya yang mengantarkan kami ke Bandar udara Tanah Merah mengatakan, ada saja yang meninggal dunia di perjalanan. Sebagian besar adalah anak-anak, serta ibu hamil.

Saya juga ikut melintasi sungai Digoel yang bermuara ke laut Arafuru, dan tak jauh dari Papua New Guinea, dimana sungai ini menjadi pintu masuk kapal-kapal pengangkut para tahanan Belanda ke Tanah Merah. Sekarang, kapal-kapal perusahaan hilir-mudik di sungai Digoel.

Berbeda dengan Ahmad Yunus dan Farid Gaban, saya berkesempatan pergi ke Boven Digoel dengan menaiki pesawat kecil berbaling-baling yang terbang seminggu tiga kali, sembari telinga terpasang headset, melantunkan daftar lagu duo Banda Neira. Matahari sendu dan langit kelabu menyambut.

Saat pesawat terbang di atas landscape Boven Digoel, petikan gitar Ananda Badudu dan lengkingan Rara Sekar, mengalunkan “Tini dan Yanti”. Ia sebuah lagu bercerita tentang tahanan yang merindu kebebasan di dinding-dinding penjara korban 65. Suara Rara makin menyayat pada lirik akhir ketika ia melantunkan “La Historia Me Absolvera”.

Kalimat ini adalah judul pidato empat jam pembelaan Fidel Castro di pertengahan Oktober 1953 ketika memimpin sebuah serangan di Moncada.

La Historia Me Absolvera, yang berarti, “sejarah akan membebaskanku” seolah menjadi memori pembebasan bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia di penjara-penjara Digoel.

Namun sepertinya itu tidak berlaku bagi Digoel sendiri. Sebagaimana tanah Papua lainnya, sejak kolonial Belanda beralih tangan ke kolonial Indonesia melalui Pepera 1969, yang terjadi justru sebaliknya; memori penderitaan yang tak berkesudahan bagi orang asli Papua.

Digoel kini justru terpenjara oleh konsesi-konsesi perusahaan ekstraktif. Pohon-pohon besar selayaknya tembok kokoh dan dianggap sebagai penjara alam mengerikan, tumbang satu persatu, menjadi bubur kayu dan minyak sawit, hingga menghilangkan hak adat lima suku besar yang mendiami Digoel; Wambon, Kombai, Muyu, Auyu, dan Korowai. Suku terakhir, Korowai, banyak dikenal karena membangun rumah di atas pohon.

Saat ini, 1,9 juta hektar kawasan hutan Digoel rencananya akan diubah menjadi hamparan sawit. Ini bukan jumlah yang sedikit. Kehadiran sawit menambah panjang penderitaan Digoel, setelah sebelumnya dibunuh oleh perusahaan logging.

Pelan tapi pasti, perusahaan membunuh rumah-rumah pohon orang Korowai, membunuh hak masyarakat adat, membunuh sagu dan sumber air, membunuh tempat-tempat keramat, membunuh keanekaragaman hayati, membunuh masa depan paru-paru dunia, membunuh masa depan anak-anak asli Papua.

Akibat eksploitasi industri ekstraktif secara masif ini, seluruh peradaban mereka terancam hilang.

Tapi sebagaimana Castro dan lantunan “Tini dan Yanti”, saya percaya, bahwa sejarah pula yang akan membebaskan Digoel. Meski entah itu kapan, saya yakin, kelak ia akan datang. Seperti halnya para tahanan-tahanan Digoel yang menolak menyerah dan terus melawan atas ketidakadilan pemerintah kolonial Belanda.

La Historia Me Absolvera. Suara Rara Sekar kembali menyayat. Pesawat berbaling-baling itu membawa saya meninggalkan Digoel. Meninggalkan matahari sendu dan langit kelabu.

About the author / 

Christopel

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip