Boga, Kasatmata

Before Midnight

2 197
14

Ini bukan cerita tentang Jesse dan Celine dalam sekuel ketiga “Before Midnight”. Tapi bahwa judul tulisan ini terpengaruh dari judul film yang adegannya diambil di Yunani, itu betul. Percayalah. Saya hanya akan menulis tentang kopi. Bukan film. Tepatnya sebuah kedai kopi, yang bagi anda di sekitar Kota Gorontalo tentu sudah sangat familiar; Kedai Maksoed.

 

Letaknya tidak begitu strategis. Menjorok ke dalam, malah. Tepat depan lapangan, deratan awal kawasan perumahan yang dibangun di era 90-an. Ia tidak jauh dari sebuah mini market yang belum lama berdiri, dan dikepung oleh toa masjid yang saban waktu tak pernah lelah memanggil-manggil orang untuk bersegera sembahyang. Atau ketika pada malam jumat, suara ibu-ibu kompleks yang menggelar bacaan barzanji akan pecah menjadi konser tunggal di malam seusai sholat isya itu.

 

Di kedai ini, kemewahannya adalah kesederhanaan. Hanya ada dua tiang penyangga dari bambu yang beratapkan spanduk-spanduk, bekas aktifitas pegiat komunitas di Gorontalo. Itu akan menjadi pelindung bagi penikmat kopi yang berada di meja dan kursi panjang yang terbuat dari kayu. Bisa dibilang, ini semacam meja very important person, atau jamak disebut VIP.

 

Tempat lainnya? Anda akan beratapkan langit. Namun jangan khawatir. Pelan, pelan, dan pelan, bulan terlihat muncul di ufuk barat dengan kemilau bintangnya, dan tanpa sadar akan menggerakan tangan untuk melukiskannya, apalagi ketika duduk di bawah pohon mangga dan pohon nangka belanda yang masih remaja di salah satu pojok itu. Selebihnya, akan ada seekor nyamuk bersama teman-temannya yang kadang begitu genit siap mencolek tubuh anda. Tapi tenang, lotion anti nyamuk sudah disiapkan seorang kawan berparas India namun mendaku diri China.

 

Buang jauh-jauh bayangan anda soal nyamuk tadi. Ia akan gugur dengan sendirinya ketika cahaya-cahaya lampu yang menguning menggantung di pojok dinding bermural dan melingkari pagar depan kedai. Cahaya itu seperti suluh menerangi aroma kopi dan menciptakan asap bergelombang yang saling kejar mengejar yang keluar dari setiap tarikan-tarikan Handi, si barista.

 

Secangkir Vietnam Drip, kopi tarik, atau black coffee berbahan dasar kopi Pinogu, sebuah wilayah enclave belantara taman nasional itu, siap meluncur di meja. Ketika menyeruputnya, saya sarankan jangan tutup mata anda. Tersebab, anda akan terbawa suasana malam di Kota Messinia, di Southern Peloponnese, dan seolah menyaksikan bagaimana revolusi Yunani melawan Turki dalam setiap artefak-artefak yang berbentuk bangunan tua berjejer rapi. Anda baru akan sadar tidak lagi berada di kota teluk itu ketika nyamuk sudah menukik di pipi sebelah kanan. Lalu disusul suara yang pelan tapi sakit, “Plakkk!!!”

 

Pun dengan menutup mata, anda tak akan melihat bagaimana Handi yang meracik kopi seperti Steven Chow memutar bola dalam Kungfu Hustle dan atau sesekali Handi akan berubah seperti Keanu Reeves di The Matriks yang menahan laju peluru kemudian berubah menjadi slow motion. Coba bayangkan, bagaimana olah kopi Handi dalam setiap tarikannya itu berubah menjadi slow motion dengan backsound The Scientist-nya Cold Play. Jika itu terjadi, saya yakin, akan tercipta video klip setara masterpiece di Kedai Maksoed.

 

Di kedai ini, malam berjalan pelan. Obrolan-obrolan akan pecah. Ada beragam pengunjung yang datang. Mulai dari pegiat literasi, pekerja sosial, aktivis lingkungan, jurnalis, aktivis perempuan, pegawai negeri sipil, politisi, pujangga, tenaga honor, penambang emas, tukang koprol, tukang ledeng, tukang foto, ustadz, hijabers, atheis, agnostik, penyembah pohon, pakar seks, antropolog amatir hingga sejarawan abal-abal.

 

Kata-kata dengan diksi yang aneh akan keluar dari mulut setiap pengunjung. Diksi-diksi itu jumpalitan ke udara, kemudian hilang terbawa angin. Kadang mereka tertawa hingga tak sadarkan diri. Kadang berbisik seperti was-was didatangi satu peleton Kompi tentara. Dan saya jamin, itu bukan efek dari kopi yang disuguhkan oleh Handi. Gejala umum yang dirasakan oleh pengunjung kedai kopi ini adalah, susah tidur. Meski bagi penikmat kopi ideologis sekalipun. Tapi bagi Handi Lovers, hal itu tidak berlaku. Namun sebagaian bilang, ini masih debatable.

 

Tapi sebagai tips dari saya, minumlah kopi di Kedai Maksoed before midnight. Maksudnya? Ya itu, sebelum tengah malam! Kemudian habiskan waktu bercakap-cakap dengan teman, pasangan, rekan kerja, kenalan baru, pacar baru, atau mantan. Temanya terserah situ. Namun saya sarankan jangan tema yang berat, seperti pemerintahan Jokowi yang menjadi lintah penghisap darah rakyat atau ancaman Donald Trump terhadap ekonomi Indonesia; dijamin susah tidur dan sakit kepala. Carilah tema yang ringan, misalkan, membully bos kita, mumpung dia tidak berada di tempat.

 

Biasanya suasana-suasana ringan seperti ini akan berjalan secara natural, dan dengan sendirinya anggapan efek dari kopi Maksoed itu akan berguguran. Jika kalian pasangan yang sedang dimadu kasih, duduklah di pojok Kedai Maksoed dan mulailah dengan dialog yang bermutu serta sesekali diselingi pertengkaran kecil, maka kalian akan terlihat seperti Jesse dan Celine dalam film Before Sunrise, lalu berlanjut ke Before Sunset, hingga ke Before Midnight. Kualitas ketiga sekuel film itu, sungguh jauh di atas kualitas AADC2. Jadi, ketika ke Kedai Maksoed, buang jauh-juah bahwa kamu seolah-olah Rangga dan Cinta.

1

Syahdan, Kedai Maksoed akan menawarkan perjumpaan-perjumpaan yang tak terduga. Semisal pada suatu malam, ketika seorang perempuan tinggi, seksi, mengenakan singlet, berambut panjang seperti cahaya lampu yang menguning itu dan dibiarkan terurai, serta berbahasa tak karuan. Terang saja, jantung Handi sang barista berdegup kencang. Kebingungan menangkis tatapan dan bahasanya.

“Ya, ya, ya, 86.”

 

Hanya itu yang bisa Handi ucapkan, selain menebarkan senyumnya dengan mata tertutup. Ia tak menduga perempuan asing yang ada dihadapannya itu akan terus memperhatikan secara detail bagaimana Handi meracik kopi dan mengulak-alik air panas itu dalam stainless. Perempuan itu terus memperhatikannya. Dan terus memperhatikannya sampai selesai hingga ia merasakan seteguk kopi hitam tanpa gula.

 

Perempuan itu seperti Madame Mallory pemilik restoran Le Saule Pleureur di selatan Prancis yang pertama kali merasakan omlet buatan Hassan, seorang chef asal India, dalam cerita The Hundred Foot Journey. Dari lidah perempuan itu akan lahir sebuah keputusan semi penting; apakah yang tersaji dihadapannya itu terkategori enak dengan kualitas high kelas atau justru cocok masuk ke tempat sampah.

 

Dan nilai Handi pada malam itu cukup memuaskan. Atau barangkali, kopi hitam racikan Handi telah berhasil mengoyak-ngoyak hati sang perempuan berambut kemuning itu dan mengingatkannya pada memori musim panas California, di pesisir barat Amerika.

 

Sampai-sampai pada keesokan harinya, perempuan itu berkata, “I can’t sleep”

 

Inilah Kedai Maksoed. Dan kopi yang perempuan minum itu memiliki cerita panjang tentang sejarah pendudukan Belanda yang masih membekas di setiap pucuk pohon liberica di hutan Pinogu. Handi meracik dan mengulak-alik air kopi seperti sedang membaca narasi kolonialis, hingga orang yang pertama kali meminumnya tak merasakan kantuk sedikit pun.

 

Handi seperti ingin mengajak perempuan itu untuk terus mendengar ceritanya, di sini, di Kedai Maksoed.

 

Malam pun berjalan pelan. Dan saya, harus segera pulang.

About the author / 

Christopel

2 Comments

  1. Makmur Dimila August 11, 2016 at 10:52 am -  Reply

    Wah, tulisannya penuh imajinatif. Sangat menikmatinya Bung Cris. Mari bincang2 selagi tanpa bos di tempat (ngopi).

    • Christopel August 11, 2016 at 12:34 pm -  Reply

      Ayo ngopi online aja hahaha.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip