Kasatmata

Kelelawar-kelelawar yang Siap Merampas Hak Anda

0 135
Kelelawar

Jhon Perkins, lelaki kulit putih asal Bretton Woods, New Hampshire, Amerika, suatu ketika berada di tanah selebes. Tepatnya di Pinrang, kota kecil di bagian selatan sulawesi. Mobil jip yang ia tumpangi melewati jalan berbukit dengan pemandangan tutupan pohon yang terlihat rapi di kiri-kanan. Beberapa jam kemudian ia telah memasuki sebuah desa. Sang sopir yang menemani perjalanannya berkata, “Inilah desa kelelawar.”

Perkins cukup kaget dengan nama tersebut. Ia melihat desa kelelawar sangat dekat dengan peternakan yang dibangun perusahaan Texas, negeri asalnya. Sebelumnya, Perkins sudah mengidentifikasi daerah-daerah yang akan dikunjunginya. Di desa kelelawar ini menurutnya berpotensi untuk dijadikan lokasi pembangkit listrik.

Pikiran Perkins terus dimainkan oleh rasa penasaran soal kelelawar. Awalnya ia tak menemukan satu pun kelelawar. Namun ketika mobil jip berjalan perlahan, pada beberapa pohon, Perkins melihat bongkahan-bongkahan hitam besar yang menjuntai dari cabangnya. Tiba-tiba bongkahan itu membuka, dan sedang merentangkan sayapnya. Perkins menyebut bahwa tubuh kelelawar itu sebesar monyet, matanya melebar, kepalanya membesar dan menatap ke arahnya. Di desa itu, Perkins mendengar desas-desus bahwa saking besarnya, kelelawar itu mampu memutuskan kabel listrik.

“Apa kelelawar ini menimbulkan masalah?” tanya Perkins kepada walikota Pinrang, beberapa saat setelah melihat langsung kelelawar itu.

Tentu saja, pertemuan utama Perkins dengan sang walikota bukan soal kelelawar itu. Melainkan memintai pendapat soal sumber daya lokal, dan mempelajari sikap walikota seandainya di wilayah mereka dibangun sebuah pembangkit listrik dan industri milik orang asing. Akan tetapi justru kelelawar itulah yang terus berkelindan dalam otaknya.

“Tidak,” jawab walikota Pinrang dengan tegas. “Kelelawar itu terbang menghilang pada malam hari dan makan buah-buahan jauh di luar kota. Lalu mereka kembali pagi-pagi, dan tidak menyentuh buah-buahan kami.”

“Mirip sekali dengan korporat-korporat bangsa Anda! Mereka terbang jauh, menghisap sumber daya di tempat nun jauh, membuang kotoran di negeri-negeri yang tidak akan pernah dikunjungi orang Amerika, dan kemudian kembali kepada Anda,” tandas walikota lagi.

Tugas Perkins saat itu adalah berkunjung ke semua daerah yang memiliki sumber daya yang mungkin bisa dieksploitasi korporasi multinasional. Perkins akan bertemu dengan pimpinan masyarakat, mengumpulkan berbagai informasi, dan menulis laporan berbunga-bunga untuk membuktikan bahwa pinjaman besar untuk mengembangkan pembangkit tenaga listrik dan proyek infrastruktur lain akan mengubah perekonomian abad pertengahan menuju kesuksesan era modern.

Perusahaan tempat Perkins bekerja ketika itu adalah MAIN, sebuah firma konsultan internasional, yang bertugas mengembangkan sistem kelistrikan terpadu yang memungkinkan Soeharto,-rezim pada saat itu,-dan kroni-kroninya menggerakan industrialisasi, menambah kekayaan, dan memastikan dominasi Amerika dalam jangka panjang. Perkins lalu bertugas melakukan kajian perekonomian yang diperlukan untuk mendapatkan pendanaan Bank Dunia (World Bank), Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Bank Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Jhon Perkins mengakui bahwa dirinya adalah bandit ekonomi, yang kemudian menjadi bos sebuah perusahaan energi yang sukses, serta melakukan pekerjaan korporatokrasi kotor. Dan negara pertama yang jadi korbannya adalah; Indonesia. Ia sendiri tiba untuk pertama kalinya di Indonesia pada tahun 1971, masa di mana kediktatoran Soeharto sedang menguat bersama kekuatan militer yang ia bangun.

Beberapa tahun setelah pertemuan dengan walikota Pinrang itu, Perkins kembali melakukan tugasnya dengan mengunjungi pelbagai daerah, juga negara di belahan bumi lainnya. Perjalanannya itu menemui kenyataan-kenyataan yang mengingatkan kembali percakapannya dengan walikota Pinrang. Setelah itu Perkins seperti sedang berkontemplasi dan semakin sadar bahwa yang ia lakukan adalah sebuah kejahatan yang luar biasa. Perkins lalu menuliskan kisahnya, dan mengungkap kejahatan korporatokrasi, sebuah jaringan yang bertujuan memetik laba melalui cara-cara korupsi, kolusi, dan nepotisme dari negara dunia ketiga, termasuk Indonesia.

Dari sini, ia membenarkan apa yang disampaikan oleh walikota Pinrang, bahwa Amerika benar-benar telah mengirimkan kelelawarnya untuk mengeksploitasi dan mencemari negeri-negeri di luar dirinya.

Perkins ingin menebus dosanya. Ia lalu menulis sebuah buku yang diberi judul “Confessions of An Economic Hit Man” atau Pengakuan Bandit Ekonomi. Buku ini seperti seorang whistle blower yang mengungkap semua kebobrokan dan kejahatan tempat ia bekerja sebelumnya. Confessions of An Economic Hit Man diakui banyak kalangan sebagai buku yang membuat gerah pemerintah Amerika Serikat dalam membangun imperium mereka. Dan tentu saja, yang menarik dari buku tersebut adalah ditulis dengan gaya narasi yang memikat, layaknya sebuah novel.

Saya membaca buku Jhon Perkins pada malam hari ketika salah seorang warga dari Desa Bindalahe, Kecamatan Bone Pesisir, Kabupaten Bone Bolango, datang menceritakan soal kondisi PLTU Molotabu, yang menurutnya semakin memperparah penyakit ISPA dan membenamkan nelayan setempat dalam kemiskinan. Orang ini datang bersama rekan-rekan saya. Kami berdiskusi sembari menyeruput kopi Pinogu ala Vietnam drip dibawah cahaya lampu yang menguning.

“PLTU Molotabu juga sekarang dijaga oleh militer,” ucap lelaki itu.

Pernyataannya ini tentu saja harus diverifikasi. Meski beberapa tahun sebelumnya, beberapa kawan jurnalis sudah memberitakan debu-debu yang dihasilkan oleh cerobong PLTU bersama sisa batu bara itu, telah menghujani rumah warga. Keesokan harinya, saya menuju lokasi pembangkit listrik itu dengan motor pabrikan Dai Nippon yang sudah 5 tahun menemani suka duka saya. Di sana, saya tiba di saat jam istirahat siang dan tak melihat langsung aparat bersenjata menjaga perusahaan tersebut. Namun ketika saya bertanya ke setiap warga, semua jawaban kompak bahwa tentara ikut ambil bagian dalam menjaga PLTU.

Cerita warga di lingkaran PLTU ini kembali membawa saya pada halaman per halaman dari buku kedua “Confessions of An Economic Hit Man” karya Jhon Perkins itu.

Perkins bercerita. Pada suatu hari di Upper West Side New York. Seorang lelaki Indonesia bertemu dengannya di restoran Thailand. Lelaki itu mengaku putra dari seorang pejabat besar di Indonesia, yang oleh Perkins disebut sebagai pejabat paling korup di Indonesia.

Emil,-begitu Perkins menyebut nama putra pejabat korup itu,-mengakui bahwa ia kini telah mengikuti jejak bapaknya yang korup, bahkan melebihi korup dari bapaknya sendiri.

“Saya ingin bertobat. Membuat pengakuan seperti Anda,” kata Emil kepada Perkins.

“Tapi saya punya keluarga dan akan kehilangan banyak hal. Saya yakin Anda mengerti maksud saya.”

Perkins kemudian meyakinkan Emil, bahwa identitasnya tidak akan dibongkar. Emil lalu bercerita:

“Di Indonesia banyak tentara bayaran. Tapi yang saya ceritakan ini lebih buruk. Dalam beberapa tahun terakhir, angkatan bersenjata kami dibeli korporasi-korporasi asing. Dampaknya menakutkan karena, seperti Anda lihat, sekarang korporasi memiliki angkatan bersenjata sekaligus sumber daya kami.”

“Kenapa Anda membeberkan informasi ini?” tanya Perkins penasaran.

Emil melemparkan pandangannya ke arah lalu lintas jalanan dari jendela restoran Thailand itu. Kemudian ia menatap mata Perkins.

“Saya seorang kolaborator. Korupsi yang saya lakukan lebih parah dari ayah saya. Saya satu di antara orang yang mengatur, mengumpulkan uang dari perusahaan, dan menyerahkannya kepada militer,” ujar Emil.

Di restoran Thailand itu, Emil bercerita banyak tentang militer Indonesia yang memiliki sejarah panjang mengumpulkan uang dari sektor swasta untuk membiayai kegiatan-kegiatannya. Menurutnya hal semacam ini seperti sudah lumrah terjadi pada negara dunia ketiga. Kemudian sejak lengsernya Soeharto pada 1998, segalanya makin buruk. Ketika kekuasaan diktator militer itu berakhir, banyak tokoh Indonesia yang berusaha mengubah hukum agar kedudukan warga sipil bisa lebih tinggi dibandingkan militer. Tapi itu sia-sia. Mereka berpikir dengan mengurangi anggaran militer, tujuan akan tercapai.

“Tapi para jenderal tahu kemana mereka harus meminta bantuan; perusahaan-perusahaan pertambangan dan energi asing,” kata Emil.

Berminggu-minggu setelah pertemuan itu, Jhon Perkins kemudian membaca sebuah artikel pada website The New York Times. Artikel itu merinci kegiatan sebuah perusahaan yang berbasis di New Orleans, Freeport-McMoRan Copper and Gold, yang menyebutkan bahwa perusahaan tersebut membayar 20 juta dolar untuk para komandan dan unit militer di kawasan mereka selama tujuh tahun terakhir sebagai imbalan perlindungan terhadap berbagai fasilitas mereka di sana. Anda tahu maksud diksi “di sana”? Ya, “di sana” yang dimaksud adalah Papua, yang merupakan konsesi emas terbesar di dunia.

Artikel di The New York Times itu kemudian menegaskan lagi bahwa, hanya sepertiga dana untuk angkatan bersenjata Indonesia yang berasal dari anggaran negara. Selebihnya dikumpulkan dari sumber “tak resmi” sebagai “biaya perlindungan”, sehingga administrasi militer bisa berjalan secara mandiri, terpisah dari kontrol keuangan pemerintah.

Pernyataan lelaki yang berasal dari desa yang menjadi lokasi PLTU Molotabu di warung kopi itu seperti dijawab oleh Jhon Perkins; bahwa perusahaan-perusahaan tersebut pasti akan melibatkan militer. Bahkan Jhon Perkins ingin kembali secara tegas mengatakan bahwa kekayaan para jenderal itu merupakan bagian dari lingkaran kejahatan korporatokrasi, dimana dulu ia ikut berperan di dalamnya.

Buku “Confessions of An Economic Hit Man” karya Jhon Perkins ini sebenarnya lebih menitik beratkan pada kejahatan korporatokrasi yang mengendalikan sistem pemerintahan negara seperti Indonesia. Korporat-korporat ini menjadi penyumbang utama para politikus, pejabat negara, dan jenderal-jenderal.

Di Indonesia cerita-cerita seperti ini sudah menjadi rahasia umum. Baru-baru ini,-meski agak berbeda kasus,-pengakuan bandit ekonomi Jhon Perkins seperti bertemali dengan pengakuan Fredy Budiman kepada Haris Azhar, koordinator KontraS, yang menyebutkan bahwa ada keterlibatan para pejabat negara dan militer dalam bisnis narkoba. Fredy telah dieksekusi mati, dan cerita itu disampaikan kepada Haris Azhar. Namun sial, Haris Azhar, yang mengungkapkan itu justru dijerat hukum dengan pasal karet pencemaran nama baik.

Saya berharap, suatu saat akan ada pejabat negara atau jenderal, yang membuat pengakuan seperti Jhon Perkins; bahwa saya adalah bandit, yang bekerja mirip mafia karena menggunakan semua cara, termasuk pembunuhan untuk mencapai tujuan. Namun saya sadar diri. Ini Indonesia, bung! Ada banyak kelelawar-kelelawar yang bergelantungan yang bekerja di malam hari mengambil hak yang bukan milik mereka.

 

About the author / 

Christopel

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip