Boga, Jelajah

Bunggo

0 88
gambar-ilustrasi-kartun-imajinasi-15

Ada arang di lubang hidungnya. Hitam. Aku menunjuknya dengan setangkai buluh yang ujungnya berapi dan sudah kutiup sebelum kuarahkan ke mukanya. Aku terbahak, hingga tepatnya, terpingkal, melihat penggalan-penggalan arang yang menjilati bulu-bulu hidungnya.

Sumpah! Baru kali ini aku melihat arang bisa sekonak itu masuk ke dalam hidung seseorang. Maklum, ini kali pertama aku memainkan bunggo yang letupannya tak ubahnya meriam. Barangkali, arang-arang itu sudah lama menjilati hidung-hidung yang terlebih dahulu memainkan bunggo di bulan puasa, sebelum aku. Mungkin.

Dan, demi nenek leluhurku! Baru kali ini aku bisa memainkan bunggo, di saat teman-temanku bisa segampangnya memainkan meriam buluh ini di waktu subuh sebelum makan sahur. Pun sesudah berbuka puasa. Kata orang tua, aku masih terlalu kecil untuk memainkan bunggo. Karena dentuman api yang keluar dari tubuh bunggo itu bisa berbahaya untuk anak seumuranku. Pula, kata mereka, bunggo itu untuk mengusir setan-setan yang seharian mengganggu manusia.

U nana wau, enak juga memainkan bunggo ini. Bunyinya mendegam-degam. Seperti sedang menghantam benteng di panggung perang melawan para kolonial yang entah dari mana datangnya. Barangkali dari barat, timur, atau kolonial yang berkedok kawan sejati, yang datang dari tanah seberang. Aku ingin menghujam setan yang berubah wujud itu dengan dentuman bunggo ini.

”Hahahaha,…”

Hey,..kenapa Ipin malah tertawa balik kepadaku. Bukannya arang itu yang masuk ke hidungnya? Aku tak merasa kalau hidungku dimasuki oleh sisa-sisa mesiu dari bunggo yang kubedilkan ke arahnya. Kebingunganku meminta penjelasan saat bersemuka dengan Ipin ketika memainkan bunggo tadi.

”Lihatlah! Keningmu tinggal tersisa beberapa helai!” seloroh Ipin.

Tangannya menunjuk rautku dengan sebilah buluh yang di ujungnya masih berarang. Pun, mulutnya benar-benar terpingkal mengalahkan tawaku yang sedari tadi.

Ah, yang benar saja. Lalu, tangan kananku menyelidik kening kiriku. Alamak,…benar-benar hangus. Rambut hitam di keningku hilang sebagian. Pasti ibu akan marah besar melihatnya saat aku pulang rumah nanti. Tapi,..lupakan saja keningku. Lupakan kemarahan ibu. Bukankah bermain bunggo itu mengasyikan? Aku ingin melanjutkan permainan yang menarik ini yang telah menjadi candu bagiku. Aku ingin membalas tembakan bunggo Ipin yang kencangnya nauzubillah.

Aku tak kapok saat meniup-niup lubang bunggo yang bisa mengeluarkan api dan menjilati keningku. Aku akan menaruh bako di ujung bunggo. Dan saat api kusulut dalam lubang bunggo itu, maka: buarrrrr,…! kaleng plastik bekas dari sabun cuci itu, akan melayang ke arah Ipin. Dan pastinya aku akan terbahak-bahak melihat bako mendarat di atas kepalanya.

Ipin, bukannya marah, ia malah tertawa saat aku menembakan bako itu yang tepat mengenai kepalanya. Namun ia akan membalasnya, hingga kesumatnya terbayarkan. Lalu, tembakan balasan yang ada bakonya itu pun mendarat di kepalaku. Aww, sakitnya lumayan juga.

”Hahahaha,…”

Ipin yang tua lima tahun dariku kembali terbahak. Dan aku membalasnya. Kami sama-sama tertawa. Kami larut dalam kegirangan memainkan bunggo di malam sebelum sholat taraweh itu dimulai. Mesjid memang tak jauh. Dan listrik sudah memiliki pancangnya di jalan beraspal yang ramai di kala puasa.

Syahdan, ramadhan menjadi syahdu ketika api obor di tangan kanan kami menyigi setepak demi setapak langkah kami ke mesjid tua itu. Kunang-kunang pun akan terpana dan mengikuti suluh yang kami bawa. Malam menjadi gilang-gemilang, berseri-seri kegirangan. Dan bunggo akan kami tanggalkan untuk sementara, di kala ayat-ayat suci keluar dari mulut Pak Imam ketika memimpin sholat taraweh.

”Ipin, minyak tanahku habis,” aku setengah berteriak kepada Ipin yang langkahnya dipercepat di depanku.

”Nanti kita singgah beli minyak tanah di kiosnya Ta Suni,” balas Ipin

”Bagikan dulu minyak tanah di obormu itu.”

”Punyaku juga tinggal sedikit. Kita beli saja di kios.”

Aku menganggukan kepala, tunduk pada ucapan Ipin. Kios Ta Suni memang tak jauh dari mesjid. Setibanya di sana, Ipin langsung memberikan dua pecahan koin seratus dan sekoin lima puluh rupiah untuk membeli minyak tanah. Harganya memang hanya 250 rupiah sebotol ukuran sirup. Suluh kami pun menyala dengan gamblang. Tak lupa, kami memesan dua botol lagi, untuk dipakai sebagai amunisi bunggo, dan akan kami jemput seusai sholat taraweh.

***

 

Buarrr!!!

Buarrr!!!

”Sahur, sahur!!!”

”Sahur, sahur!!!”

Suara dentuman bunggo mendegam-degam menggelegar menghujam malam. Aku, Ipin, Iwan, Faisal, dan Romi, dengan serta-merta meletupkan bunggo. Bunggo berjejer-jejer rapi seperti sedang menghadapi Jepang yang menggelorakan Asia Raya dalam perang dunia kedua. Usai bunggo meletup, suara kecil kami kompak berteriak membangunkan rumah-rumah yang terlelap dalam gelap.

”Sahur, sahur!!!”

Malam pada dini hari itu, semangat anak-anak kecil meletup-letup seperti bunggo yang membangunkan warga untuk segera bersantap sahur. Dan ketika lampu-lampu mulai menyala satu persatu di setiap sudut rumah, hingga menyerupai kunang-kunang yang terbangun dari tidur, senyum kami seperti sabit yang saling kait-mengkait. Senyum itu menjadi khas dengan padanan kopiah hitam yang terpasang melintang di kepala kami, dan sarung menggantung di pundak menjadi selempang.

Oww, ihaaa,..ada kepuasan dalam dada kami. Bangga. Bangga dengan bunggo. Bisa membangunkan orang bersantap sahur, pun mengusir setan-setan yang mengompori manusia agar terus merajut mimpi. Tersebab, tak ada kotak ajaib bernama televisi yang ramai-ramai membangunkan warga di saat sahur atau menghasut mereka untuk melongo pesohor masyhur yang mendadak alim.

Tak sekedar bermain. Kami menjadi pengekal bunggo di ramadhan itu. Hingga menjelang malam lailatul qadar, ketika semesta Gorontalo menyambut tumbilotohe, sebuah malam yang dikenal dengan malam pasang lampu. Yang ditandai lampu-lampu berpendar dan gemerlap. Maka ramai-ramailah kami berarak dengan suluh ke langgar-langgar dan menyalakan bunggo sambil berteriak membangunkan orang bersahur.

Dan bunggo itu baru akan berhenti ketika malam takbiran, setelah sebelumnya setan-setan berhasil dikalahkan.

 

***

 

”Papa,..bili akan petasan uti (belikan saya petasan),” teriak anakku.

Anakku merungut-rungut sekuatnya sambil menarik bajuku. Tentu, ia tak akan menjadi-jadi jika tak melihat anak-anak itu berarak sambil menutup telinga karena bunyi petasan yang diledakan di sudut mesjid.

Ya, di sudut mesjid, usai buka puasa bersama dan sholat magrib, ketika seorang anak berdiri dengan posisi kuda-kuda terpasang. Tangan kanannya memegang korek dan menyulutnya pada sumbu petasan berbentuk segitiga. Seketika anak itu berlari saat sumbu menyala sambil menutup telinganya.

Dan, ”Pletak! Pletak”

Suara ledakan dari petasan itulah yang membuat anakku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena ia ketakutan, namun sebaliknya justru ingin melakukan hal yang sama.

”Tenang, nak. Nanti papa bikinkan bunggo,” kataku mencoba menenangkan buah hatiku.

”Papa janji bikin bunggo sejak hari pertama puasa. Tapi mana? Seperti apa bunggo itu?”

Astaga,..jawaban sekaligus pertanyaan dari anakku itu langsung menohok jantungku. Seperti belati. Aku kelimpungan harus menjawab apa. Bunggo yang selalu dimainkan anak-anak Gorontalo bila tiba masa ramadhan itu, tak pernah diketahui oleh anakku, seperti apa wujudnya.

Aku bukannya tak menepati janji. Bambu-bambu itu sudah kuriset sedemikian rupa untuk dijadikan bunggo yang keras bunyinya sebagai hadiah buat anakku. Tentu ia akan senang. Namun itu urung kulakukan. Hal ihwal kelangkaan, kemahalan, serta hilangnya minyak tanah dari pasaran itulah yang membuat aku batal membuat bunggo.

Ya, minyak tanah adalah amunisi bunggo. Namun kecerdikan daulat pemerintah yang menarik minyak tanah dari pasaran dan memberinya ke pemilik kapital itulah yang membuat anakku tak bisa melihat wujud bunggo. Mereka lantas menabur tabung-tabung berukuran tiga kilogram yang sewaktu-waktu bisa meledak melebihi bunggo, dan tentu saja bisa menewaskan aku dan keluargaku. Sampai pada akhirnya, bunggo yang kumainkan ketika kecil itu, kini tergantikan oleh anak-anak yang saling melempar petasan.

”Papa, tolong!!!” teriak anakku. Suaranya memekik di malam seusai sholat taraweh itu. Ia berlari ke arahku.

”Kenapa?”

”Kiki terkena petasan di bagian tangan dan perut.”

”Terkena petasan bagaimana maksudnya?”

”Tangannya berdarah. Petasan lebih dulu meledak sebelum di buang dan serpihannya terkena perut.”

Uuu,..ati…kasihan anak tetanggaku itu. Segera kucari Kiki, anak sembilan tahun itu, dan membawanya ke Puskesmas yang tak jauh dari tempat tinggalku. Tangannya nyaris terbelah oleh petasan. Dan yang lebih mengejutkanku ketika berada di Puskesmas itu, ternyata ada sekitar lima orang anak kecil yang mengalami kecelakaan serupa. Tangan-tangan mungil mereka terpaksa menjadi cacat dan tak bisa menikmati puncak kebahagaiaan berlebaran bersama keluarga.

 

***

 

Assalamualikum, Pak. Tangan kiri Kiki harus diamputasi. Kami tak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit. Jikalau berkenan, kami berharap bisa dipinjamkan uang untuk biaya pengobatan anak kami….”

 Pesan singkat itu tiba-tiba masuk ke nomor handphoneku. Kiki, si anak kecil sembilan tahun yang dirujuk ke rumah sakit, terpaksa harus di potong tangan kirinya akibat petasan itu, malam ini.

Ah…seandainya anak-anak itu memainkan bunggo. Tentu hanya arang-arang yang keluar masuk menjilati hidung mereka. Arang hitam itu.

Gorontalo, ramadhan 2012  

 

 

 

 

About the author / 

Christopel

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip