Kasatmata

Wiranto, Gorontalo, dan Papua

0 591
Wiranto. Foto: Tempo.co

Wiranto secara resmi menggantikan Luhut Binsar Panjaitan sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Penggantian itu diumumkan oleh Presiden Jokowi dalam reshuffle atau perombakan kabinet jilid 2, pada hari Senin siang, 27 Juli 2016.

Sebelumnya, pada pemilu 2004 Wiranto adalah calon presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan Salahudin Wahid atau Gus Sholah. Lalu pada pemilu 2009, Wiranto adalah calon wakil presiden berpasangan dengan Jusuf Kalla, juga dengan bendera Golkar,-partai yang pada jaman orde baru tidak mau disebut partai.

Pada tahun 2009 itu, ketika sedang kampanye pemilihan umum presiden, saya yang ketika itu bekerja sebagai jurnalis Tempo, mendapat tugas untuk mewawancarai Wiranto ketika bertandang ke Gorontalo. Sayangnya, Wiranto batal hadir dan berkampanye di gedung yang belum lama diresmikan itu, dan sudah dipenuhi oleh massa. Namun ketidakhadiran Wiranto digantikan istrinya. Hal itu tidak mengurangi teriakan dan yel-yel dari pendukungnya.

Ada yang bilang, karena Gorontalo sudah pasti merupakan kantong suara Wiranto, maka ia lebih memilih untuk berkampanye di daerah yang merupakan kantong suara lawan politiknya ketika itu; SBY-Boediono atau Megawati-Prabowo.

Usai melakukan kampanye, semua wartawan mengerebungi sang istri Uga Wiranto dan mewawancarai wajahnya yang sedang sumringah. Topiknya soal materi kampanye dan peluang kemenangan tim pasangan Nusantara, jargon Jusuf Kalla dan Wiranto pada saat itu. Setelah wawancara para wartawan selesai, saya sudah mengatur strategi untuk wawancara door stop, dengan mengambil jarak sekira lima meter dari para wartawan tadi. Ketika berhadapan dengan Uga Wiranto dan memperkenalkan diri, istri sang jenderal itu tersenyum.

“Saya ingin bertanya soal Pak Wiranto. Tapi sayang Pak Wiranto batal hadir. Saya ingin tanya soal pelanggaran HAM di Timor-timur tahun 1999, ketika Pak Wiranto menjabat sebagai Panglima ABRI. Bagaimana pendapat Ibu Uga?” kata saya dengan hati-hati.

Tentu saja saya merasa pertanyaan ini kurang greget kalau dijawab oleh sang istri. Karena tujuan utama saya adalah bertanya langsung ke orangnya; Wiranto.

Usai pertanyaan itu dilontarkan, senyum yang keluar dari lesung pipit Uga Wiranto yang dilempar kemana-mana itu, sontak berubah menjadi sinis. Matanya seperti membelalak dan ingin keluar memarahi saya.

“Kalau bisa jangan bertanya soal itu. Kasusnya sudah selesai. Bapak tidak bersalah,” katanya dengan nada ketus.

Orang-orang yang berada di sekeliling Uga Wiranto, juga ikut memandang sinis kepada saya. Sementara beberapa orang lagi, tertawa melihat gelagat saya yang seperti dicampakan begitu saja.

Sebelum mewewancari Uga Wiranto, saya sudah memegang beberapa referensi soal pelanggaran HAM Wiranto seusai jajak pendapat di bekas provinsi Indonesia yang ke-27 tersebut. Disebutkan, Wiranto terlibat dalam pembunuhan yang diperkirakan sebanyak 1000-an orang lebih tewas. Peradilan di Timor Leste memutuskan Wiranto bersalah. Dan hingga kini, kasus yang menimpa Jenderal kelahiran Yogjakarta, 4 April 1947 itu dianggap belum selesai.

Bagi sebagian besar orang Gorontalo, nama Wiranto sangat akrab di telinga. Ia seorang popular dan dianggap berjasa bagi Gorontalo. Maklum, tujuh tahun Wiranto bertugas di Gorontalo. Karirnya ia bangun dari daearah yang dahulunya terintegrasi dengan Sulawesi Utara. Jabatannya adalah Komandan Peleton Yonif 713 Gorontalo. Ketika itu, Wiranto banyak menghabiskan waktunya bertugas di Desa Tutulo, Kecamatan Botumoito, di Kabupaten Boalemo. Durasi tujuh tahun terbilang cukup lama bagi Wiranto bertugas di suatu daerah. Dari sini ia kemudian bertemu seorang bernama Rugaiya Usman atau dikenal dengan sebutan Uga,-gadis cantik yang dikemudian hari dipersunting sebagai istrinya.

Di Gorontalo, Wiranto bersama Uga mendirikan sekolah tingkat atas yang terkenal itu dengan nama SMA Terpadu Whira Bakti. Letaknya di Kecamatan Suwawa di Kabupaten Bone Bolango. Siswa laki-lakinya berambut cepak, mirip tentara. Ya, tentara! Karena sekolah ini mengedepankan karakter disiplin ala militer. Dan ternyata, sekolah ini memang mengadopsi SMA Taruna Nusantara di Magelang, Jawa Tengah.

Selain terlibat pelanggaran HAM di Timor Leste, Wiranto juga dituding sebagai dalang dari peristiwa Biak Berdarah pada bulan Juli 1998. Tabloid Jubi Papua, menyebutkan bahwa tragedi Biak Berdarah, 6 Juli 1998, adalah sebuah ukiran penderitaan di hati Orang Papua. Sebuah tragedi kemanusiaan. Tindakan biadab yang diterima rakyat sipil, hanya karena mempertahankan bendera bintang fajar yang dikibarkan pada sebuah menara air setinggi 35 di dekat pelabuhan laut Kota Biak.

“Aksi damai yang dilakukan 500–1.000 masa itu berakhir dengan apa yang dikenal dengan peristiwa Biak Berdarah, 6 Juli 1998. Aksi penaikan Bendera Bintang Kejora ini dinilai sebagai tindakan melanggar hukum sehingga ditangani dengan kekerasan oleh aparat TNI/Polri. Ratusan demonstran sipil tak bersenjata yang bertahan di sekitar menara air itu dikepung dan ditembaki pada 6 Juli 1998 subuh. Warga sipil di Kelurahan Pna, Kelurahan Waupnor dan Kelurahan Saramom, Kecamatan Biak kota digiring oleh aparat ke Pelabuhan laut Biak lalu dianiaya. Terjadi penangkapan sewenang-wenang, pembunuhan kilat, penyiksaan, penghilangan paksa dan berbagai tindakan tidak manusiawi lainnya,” tulis Tabloid Jubi.

Orang yang merancang aksi damai Biak yang berujung jadi petaka itu adalah Filep Karma. Tahanan politik yang ditangkap secara paksa sekaligus dibebaskan secara paksa itu adalah pemimpin demonstran. Filep lalu ditangkap aparat karena dianggap provokator, lalu dipukuli hingga giginya retak. Pemukulan itu lalu memicu terjadinya bentrok. Tentara main tembak kepada para demonstran. Banyak mayat yang dilaporkan dimuat di dalam truk dan diangkut dua kapal TNI Angkatan Laut, dan dilempar begitu saja ke laut.

Dalam bukunya yang berjudul “Seakan Kitorang Setengah Binatang”, Karma menduga banyak mayat yang dikubur seadanya di dekat pulau-pulau yang ada di dekat kota Biak. Jumlah korban yang mati hingga kini belum jelas. Banyak saksi mata dan korban yang bercerita mengenai peristiwa Biak berdarah itu kemudian dituangkan dalam website; www.biak-tribunal.org.

Peristiwa itu semakin menegaskan kembali bahwa tanah Papua selain menjadi ladang emas dan pundi-pundi kekayaan untuk membangun Indonesia, juga menjadi ladang pembantaian bagi mereka yang ingin menapaki dan ingin menancapkan kekuasaannya di Indonesia.

Hari ini, 27 Juli 2016 atau 18 tahun setelah peristiwa itu, belum ada satu pun orang yang bertanggung jawab atas peristiwa pembantaian itu yang diseret ke pengadilan. Namun bagi rakyat Papua, mereka ingat betul satu nama yang bertanggung jawab atas tragedi itu; Wiranto, Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, atasan militer yang bertindak brutal di Biak.

Dan kini, Wiranto resmi menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum, dan Keamanan. Meski sebenarnya, posisi ini pernah ia duduki semasa Presiden Gus Dur. Bagi sebagian orang Gorontalo, itu sangat membanggakan. Namun tidak bagi rakyat Papua, karena nama Wiranto akan tumbuh subur dalam setiap memori penderitaan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About the author / 

Christopel

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip