Kasatmata

Panggung Sandiwara Sepak Bola Indonesia

2 356
40251156066578486314818

Sabtu, 13 Juni 2015. Seperti biasa, cuaca Gorontalo membakar kulit. Maklum tempat lahir saya ini adalah salah satu daerah yang dilintasi garis khatulistiwa. Pohon-pohon ditebang oleh orang bebal. Panasnya minta ampun. Padahal hari menjelang sore. Di kaki langit, malam seperti sedang mengintip bagaimana saya melaju dengan sepeda motor pabrikan Jepang itu.

Di saat yang sama, ribuan kilometer dari Gorontalo, di luar Stadion Nasional Jalan Kallang, aroma panas juga tampak menyengat. Bukan karena teriknya matahari. Di sana ada banyak orang berkumpul. Ada yang tertawa, ada yang menyanyikan yel-yel. Sejumlah wartawan menyiapkan tripod dan kameranya. Mereka merekam peristiwa itu. Seorang petugas berseragam biru di Sport Hub Singapura, memperlihatkan wajah sangarnya. Matanya awas.

Akses menuju pintu stadion dijaga ketat oleh kepolisian setempat. Setiap yang masuk diperiksa dengan metal detector. Malam nanti, dalam hitungan jam, akan tersaji duel Indonesia melawan Thailand. Kedua Negara itu akan bertarung dalam pentas semifinal sepak bola Sea Games Singapura 2015. Sebagai pecinta bola, saya tak ingin melewatkan laga kali ini. Meski tak mengikuti pertandingan timnas U-23 sejak awal.

Saya tiba di rumah saat bulan sedang beranjak. Tv segera dinyalakan. Kopi kampung yang dibeli di pasar minggu menjadi teman pendamping menonton anak buahnya Aji Santoso berlaga.

Di kotak ajaib itu, diputar kembali hightlights timnas Indonesia dari penyisihan grup hingga mampu menapaki semifinal. Sebelumnya, kemenangan Indonesia 1-0 atas tuan rumah Singapura menjadi headline program olah raga di tv-tv lokal Jakarta bersiaran nasional itu.

Wajah sang presenter tak henti-henti menebar senyum. Ia penuh semangat membaca berita bagaimana timnas mengalahkan lawan dipenyisihan laga. Tangannya sesekali terkepal dan dari mulutnya keluar kalimat “Indonesia Juara!”. Sesekali diselingi iklan para pesohor yang berjualan kopi kemasan.

Setelah itu, bergantian komentator menyampaikan analisanya. Tak kalah dengan presenter, sang komentator menganalisa pertandingan dengan berapi-api. Sembari potongan-potongan gambar dimunculkan di layar tv yang lebih banyak menampilkan sosok Evan Dimas, pencetak gol satu-satunya ketika Indonesia memastikan kemenangan melawan Singapura.

Cara Evan Dimas membuat gol dibuat slow motion; pelan dan pelan. Selain itu, rekaman gol-gol pertandingan sebelumnya saat mengalahkan Fhilipina 2-0 dan menggulung Laos 5-0 juga diputar ulang. Euphoria itu seolah menisbihkan bahwa Indonesia sudah juara. Mereka seperti sedang berfantasi menjelang semifinal lawan Thaliand.

Analisis dari pengamat bola itu silih berganti mengatakan Indonesia pasti bisa mengalahkan negeri gajah putih, sang juara bertahan. Kemenangan pasti akan digenggam, katanya. Kalau pun Indonesia kalah, pasti kekalahan tipis, barangkali setipis plastik.

Tak lama setelah itu, kamera memperlihatkan sepatu bergerigi yang menekan bola. Ia di-shot zoom hingga nyaris memenuhi layar kaca 21 inch. Dua orang pemain menaruh tangannya di pinggang. Kick off dimulai dan gemuruh supporter kedua kesebelasan memenuhi stadion Nasional Jalan Kallang, Singapura. Saya memperbesar volume tv. Sepuluh menit pertama pertandingan lebih dikuasai Thailand. Pemain-pemain Indonesia berusaha membangun serangan. Namun mereka kewalahan dan banyak melakukan kesalahan. Sebelas orang yang mengatasnamakan Indonesia itu seperti diajari cara bermain bola oleh sebelas orang Thailand. Saya mulai mencium bau gol. Dan benar saja, dua menit kemudian, Gol!! Rungrat Phumichantuk membobol gawang Teguh Amiruddin.

Phumichantuk berlari kegirangan di sudut lapangan. Selebrasi golnya disambut oleh teman-teman yang lain. Mereka merangkul Phumichantuk. Selebrasi mereka terlihat jelas dari bangku cadangan tim Indonesia. Raut muka Aji Santoso di-shoot kamera. Santoso terdiam. Mukanya masam. Namun ia segera sadar dan cepat memberi semangat kepada anak asuhnya. Sementara di layar tv, suara komentator dan presenter bola menyayangkan para pemain belakang Indonesia yang tak sigap.

“Ini kesalahan, bung. Pemain belakang kita tidak mengantisipasi bola rebound.”

Indonesia kembali menyusun kekuatan. Terlihat anak-anak muda itu ingin sekali membobol gawang Thailand. Namun tanda-tanda itu belum nampak juga. Justru sebaliknya, Thitiphan Puangjan dengan sekali tanduk, bola berhasil merobek gawang Teguh untuk kedua kalinya sekaligus merobek hati penggemar Indonesia. Peristiwa itu terjadi di menit ke 29 dan menutup laga babak pertama dengan skor 2-0.

Iklan kembali diputar. Saya membayangkan apa yang terjadi di kamar ganti pemain Indonesia. Bisa jadi Santoso memberi motivasi sembari marah-marah kepada pemainnya karena bobol dua gol. Di tv, presenter dan komentator kembali menganalisa pertandingan, sembari meminta kepada penonton di rumah agar mondoakan pemain Indonesia supaya bisa mengejar ketertinggalan dan berbalik mengalahkan Thailand.

“Pemirsah yang ada di rumah, saat ini Indonesia ketinggalan dua gol. Kita doakan, bung. Semoga Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dan berbalik unggul.”

Dan babak kedua pun dimulai. Namun apa lacur, Thailand, negara kecil yang luasnya tak lebih dari luas pulau Kalimantan itu, justru semakin bernafsu menghancurkan tim nasional Indonesia yang luasnya seperti dari Inggris sampai Turki. Alih-alih menyamakan kedudukan, Indonesia justru kebobolan tiga gol lagi.

Untuk kedua kalinya, Phumichantuk mempermalukan Indonesia pada menit 51. Enam menit kemudian, Narubadin Weerawatnodom, merayakan golnya yang semakin membuat bangku cadangan tim Indonesia tertunduk lesu. Dan satu menit menjelang waktu normal usai, gol Chanathip Songkrasin, seperti belati yang menusuk lebih dalam lagi luka pemain Indonesia. Skor 5-0. Pemain Thailand tertawa kegirangan. Mereka menari-nari di atas penderitaan rakyat Indonesia. Tv saya matikan!

Pertandingan berikutnya adalah melawan Vietnam untuk berebut medali perunggu. Saya tak berniat menonton siaran langsungnya. Cukup melihat hasil akhir. Saya tak ingin melihat presenter dan komentator yang terus berfantasi agar Indonesia menang. Maklumlah, 24 tahun Indonesia belum pernah juara dalam ajang ini. Terakhir mereka merasakan berada di puncak kedigdayaan sepak bola se Asia Tenggara itu pada tahun 1991 di Fhilipina.

Esok harinya, saya menyambut pagi dengan menyalakan tv karena penasaran hasil pertandingan. Di stasiun tv lokal Jakarta itu, presenter perempuan dengan gestur kecewa membacakan hasil akhir. Skor yang terjadi pada duel semifinal lawan Thailand, kembali terulang; 5-0. Vietnam, negeri yang diluluhlantakan oleh perang itu mencukur habis pemain-pemain Indonesia. Melihat pemain-pemain Vietnam menciptakan gol, saya seperti membayangkan Duong Thu Huong, si pengarang termasyur Vietnam ada di pinggir lapangan memberikan semangat.

“Di Negeri kami, 25 tahun setelah perang, tak kunjung terdengar alunan suara piano menelusup lewat jendela, dan, dengan hati-hati dan penuh rasa takut, rakyat baru mulai mempelajari bab pertama dari demokrasi sambil memikul penderitaan karena adanya penindasan yang luar biasa beratnya.”

Barangkali catatan dari Duong Thu Huong dalam novel perang “Novel Without a Name”, itu menjadi penyemangat para pemain Vietnam bermain sepak bola. Mereka seperti ingin melupakan amuk perang dengan cara bermain bola.

Beberapa jam kemudian tv Indonesia ribut. Bukan karena kegagalan mencapai target, tapi muncul kasus yang diduga pengaturan skor. Kasus pengaturan skor ini dilaporkan oleh penggiat anti korupsi dengan memberikan bukti rekaman antara suara bandar judi yang mengatur skor. Keributan sepak bola di Jakarta, terdengar sampai di Gorontalo, dan pelosok lainnya di Indonesia. Dan kekalahan itu pula, menjadi laga terakhir Indonesia di pentas internasional.

***

Satu bulan sebelum pertandingan itu, ketika penyisihan grup, saya berada di Australia. Tepatnya di Kota Melbourne. Saya dapat fellowship selama satu bulan lebih belajar tentang perempuan dalam media dan ekonomi dari Asia Pacific Journalism Centre. Saya tinggal di Quest Apartemen, Lygon Street, Victoria. Minggu ketiga di bulan Mei itu, saya tinggal seruangan dengan seorang kawan jurnalis dari Papua New Guinea. Namanya Mark Kayok.

Hunian kami sering dikunjungi kawan lainnya, Gery Hatigeva, jurnalis asal Kepulauan Solomon. Gery dan Mark sering bercerita bahwa mereka hampir setiap malam bertemu dengan tokoh pejuang pembebasan Papua Barat, Jacob Rumbiak. Saya kenal baik nama yang menjadi musuh pemerintah Indonesia itu lewat berita-berita internet yang sering saya baca. Gery ternyata sangat akrab dengan aktivis kemerdekaan Papua. Di negaranya, ia sering meliput dan mewawancarai perjuangan aktivis Papua itu.

Saya bilang kepadanya hasrat ingin ketemu dengan Jacob Rumbiak. Namun tidak hanya Jacob Rumbiak, Gery bilang kalau ia juga punya teman seorang aktivis dari Maluku. Saya semakin penasaran. Awalnya saya ingin ketemu di tempat karaoke, di mana mereka beberapa kali kumpul dan bernyanyi bersama. Tapi Gery bilang kalau keduanya akan datang berkunjung ke tempat kami.

Pada sebuah malam, suhu di seluler saya menunjukkan angka 7 derajat celcius. Seseorang mengetuk pintu apartemen. Saya menyaksikan dari lubang pengintip pintu lelaki memakai jaket kulit, celana jeans, dan sepatu sporty. Rambutnya keriting pendek dan terlihat uban pada kedua sisinya. Saya membuka pintu dan mempersilahkannya masuk. Kulitnya sedikit hitam dan mulai nampak guratan di wajahnya. Saya menduga umurnya mendekati 50-an tahun.

“Saya Chris, dari Gorontalo, Sulawesi,” kata saya memperkenalkan diri. Saya sudah yakin tamu yang datang ini bisa berbahasa Indonesia.

“Hai, saya Tommy.”

Tommy membawa dua buah kotak wine; putih dan merah. Masing-masing kotak itu berisi dua liter wine. Saya agak canggung. Kadang berbahasa inggris, karena Mark juga ada di ruang kami. Tapi saya lebih banyak berbahasa Indonesia ketika bercerita dengan Tommy. Saya berbasa-basi menceritakan diri saya kepadanya. Tidak lama kemudian Gery datang. Ia mengambil gelas dan menuangkan wine buat kami. Namun Gery tidak minum wine. Ia ternyata menyimpan sebotol Jim Beam di kulkas, lalu mencampurnya dengan coca-cola. Kadar alkoholnya lebih tinggi dibandingkan wine.

“Om Tommy, kerja apa di Melbourne?” tanya saya setelah lama berbincang.

“Saya kerja sebagai tukang listrik.”

“Oh, ya?”

Tommy tersenyum melihat reaksi saya. Saya tak tahu apakah itu benar-benar profesinya atau ia sedang merahasiakan sesuatu, terutama dengan orang yang baru pertama dia kenal. Tommy orang asli Maluku. Nama lengkapnya Tommy Latuperissa. Namun ia sebenarnya lahir di Medan, Sumatera Utara. Keluarganya pun lebih banyak tinggal di Medan ketimbang Ambon.

Tommy Latuperissa, sebelah kiri. Ia adalah mantan pemain tim nasional Indonesia di era 1980-an. Ia kini jadi warga negara Australia dan sekarang membantu memperrjuangkan nasib masyarakat Papua. Foto: Dokumentasi pribadi.

Tommy Latuperissa, sebelah kiri. Ia adalah mantan pemain tim nasional Indonesia di era 1980-an. Ia kini jadi warga negara Australia dan sekarang membantu memperrjuangkan nasib masyarakat Papua. Foto: Dokumentasi Tommy Latuperissa.

Lalu kami bercerita banyak hal tentang Indonesia; mulai dari korupsi hingga soal militer Indonesia.

Ketika membahas soal korupsi, ia bercerita pengalamannya. Dari sini saya kaget. Ia banyak tahu soal praktek busuk di Indonesia itu justru bermula dari bermain sepak bola.

“Saya ini pemain bola professional di Indonesia. Saya bermain di tim nasional,” ujar Tommy.

“Betul, kah?” saya makin penasaran.

“Saya bermain di club Niac Mitra, Surabaya,” katanya lagi tersenyum.

“Wah, Om Tommy hebat dong. Posisinya apa?”

“Posisi saya belakang, stopper. Saya satu klub dengan Fandi Ahmad, pemain asal Singapura. Kami pernah kalahkan Arsenal ketika datang ke Indonesia.”

Saya semakin kagum dengan orang yang menjadi lawan bicara saya ini. Niac Mitra yang ia sebut adalah klub hebat periode 1980-an dan juara Galatama atau Liga Sepak Bola Utama. Sedang Fandi Ahmad adalah pemain legendaris Singapura, dan kini menjadi pelatih tim nasional negeri Singa Putih itu.

“Lalu kenapa Om Tommy tidak melanjutkan karir sepak bola di Indonesia. Menjadi pelatih, misalkan?” saya bertanya lagi.

“Tidak. Saya tidak mau. Korupsi dan suap di sepak bola Indonesia itu parah sekali. Sewaktu membela Niac Mitra saya bisa saja jadi kaya. Saat itu saya bekerja di Bulog. Tapi saya berhenti. Ada beberapa pemain Niac Mitra yang kerja di Bulog juga. Mereka korup, ambil beras milik rakyat, kemudian dijual lagi.”

“Ketika aktif bermain bola, mereka terlibat suap dan pengaturan skor. Saya tahu siapa-siapa pemain itu,” lanjut Tommy.

Ia lalu menyebut beberapa penyerang tim nasional Indonesia yang ketika itu terkenal, namun terbukti terlibat suap.

Saya terdiam mendengar cerita Tommy. Sembari ia bercerita tentang kekalahan Arsenal, saya seperti dibawa pada sebuah siang di bulan Juni 1983, ketika Niac Mitra menjamu The Gunners di Stadion 10 November Surabaya.

Arsenal diperkuat pemain legendaris mereka, David O’Leary, serta dua pemain tim nasional Inggris, Kenny Samson dan Graham Rix, juga kipper hebatnya Pat Jennings. Arsenal tour ke Indonesia dan beruji coba dengan beberapa klub lainnya. Semuanya berhasil dikalahkan.

Namun berbeda dengan Niac Mitra yang diperkuat Tommy. Ia berhasil meredam pergerakan duo striker Arsenal. Ia menjadi palang pintu sebelum para striker Inggris itu membobol kipper Niac yang dikawal David Lee asal Singapura.

Hasilnya, Niac Mitra mengalahkan Arsenal dengan dua gol tanpa balas lewat kaki Fandi Ahmad menit ke 37, dan Joko Malis menit ke 85.

Di Niac Mitra, Tommy Latuperissa terkenal sebagai stopper dengan nomor punggung 6. Karirnya di tim nasional Indonesia dimulai sejak tahun 1978 ketika berlaga di Kejuaraan Junior Asian di Bangladesh. Setelah itu, pada tahun 1979 bersama tim nasional U-19 dalam ajang sepak bola junior dunia di Tokyo, Japan, mereka berlaga di babak kualifikasi dan harus melawan tim raksasa dari Argentina yang dilatih Ceasar Menotti. Kapten kesebalasan Argentina junior saat itu adalah legenda hidup Diego Maradona.

“Saya bermain di tim nasional selama 4 tahun, mulai dari junior sampai senior dan malah sempat bergabung dengan mantan-mantan pemain senior tim nasional Indonesia, seperti almarhum Ronny Patinasarany, Simson Rumahpasal, Rully Nere, Metu Duaramuri yang kini jadi asisten pelatih Persipura, Berti Tutuarima, David Sulaksmono, Didik Darmadi, Johanes Auri, Robby Binur, Ristomoyo, Ferril Hatu, Rudy William Kelces, dan masih banyak lagi,” Tommy bercerita.

Wine di gelas kami mulai kosong. Saya kemudian menekan tombol pada kotak wine, dan air berwarna merah itu meluncur dalam gelas. Tommy lalu melanjutkan ceritanya. Kesuksesan dalam profesinya sebagai seorang pemain tim nasional Indonesia, berkat bimbingan yang sangat disiplin dari pelatih asal negeri kincir angin, Belanda, almarhum Wiel Corver dari Feyenoord, Rotterdam, yang saat itu dipercaya jadi pelatih tim nasional Indonesia.

“Ia dikenal sebagai pencipta total football.”

Karir sepak bolanya berakhir di Niac Mitra yang ketika itu pemiliknya adalah A. Wenas. Kontrak sebagai pemain sepak bola selesai, Tommy lalu bekerja sebagai pegawai di Depot Logistik dan Bulog, di Surabaya. Menurutnya, korupsi yang ada di kantor Bulog dan Dolog pada waktu itu sangat dahsyat, dimana beras dan gula bisa diperjualbelikan secara ilegal demi kepentingan pegawai dan bos besar, mulai dari Jakarta sampai ke daerah-daerah. Kondisi itu membuat Tommy berhenti bekerja. Total ia hanya bekerja selama tiga tahun saja.

Kini Tommy Latuperissa semakin jauh dari hingar-bingar sepak bola. Bahkan ia memilih menjauh dari Indonesia, dan menjadi warga negara Australia. Ia kemudian terlibat aktif dalam membantu perjuangan rakyat Papua untuk memerdekakan diri dari Indonesia.

Bagi Indonesia, dia adalah pahlawan di lapangan hijau. Tapi itu dulu. Sekarang, Tommy telah menjadi musuh Indonesia, karena aktivitasnya dalam mengkampanyekan penentuan nasib sendiri rakyat Papua.

“Saya tak benci rakyat Indonesia, yang saya benci adalah pemerintah Indonesia,” kata Tommy.

***

Perjumpaan dengan Tommy Latuperissa itu mengingatkan pada masa kecil saya. Saya sangat senang bermain bola. Sebelum dan sesudah belajar mengaji pada sebuah masjid kecil di kampung itu di sore hari, saya dan teman-teman memainkan bola plastik dengan gembira. Atau ketika lonceng istirahat di sekolah dasar itu berbunyi, bola plastik akan menjadi bulan-bulanan kaki-kaki mungil kami. Jika berhasil mencetak gol, saya berselebrasi menimang anak dengan dua tangan yang rapat, mengikuti gaya Bebeto, penyerang asal Brasil yang memenangkan Piala Dunia tahun 1994 di Amerika Serikat.

Ketika SMP, saya beberapa kali ikut pertandingan sepak bola mini antar kampung. Luasnya macam lapangan futsal hari ini. Bola dari plastik diisi 3 sampai 5 balon tiup. Kadang, bolanya meletus. Yang bisa bermain pun hanya orang dengan tinggi 150 centi meter. Panitia menyiapkan alat ukur tinggi badan. Alat itu terbuat dari kayu yang berbentuk huruf L terbalik. Kayu itu sudah di-setting sedemikian rupa dan bagian atasnya ditaruh bohlam 5 watt. Jika lewat satu centi meter saja, lalu kepala menyentuh kayu bagian atas maka bohlam akan menyala. Dengan demikian yang bersangkutan gagal tes tinggi badan dan dicoret dari daftar pemain.

Nama-nama club yang ikut pertandingan sepak bola mini ini bikin keder telinga. Mulai dari Boca Junior’s, Arsenal, hingga Jamaika, negara asalnya Bob Marley. Usia tidak menjadi soal dalam pertandingan ini. Dengan catatan tubuhnya haruslah pendek. Ketika pertandingan dimulai, ada beberapa pemain yang tak memakai sepatu. Kaki saya yang dilapisi sepatu kets, beberapa kali bertemu kaki yang tak pakai sepatu dengan pemilik wajah yang kelihatan lebih tua. Ia dengan sengaja menghantam kaki saya. Sakitnya minta ampun.

Saat SMA, saya masuk tim U-19 sepak bola kabupaten. Nama klubnya Persidago. Kami dipersiapkan untuk Liga Remaja Suratin Cup. Ada kebanggaan masuk dalam tim ini. Sebab Persidago memiliki nama besar ketika itu. Juga ini adalah ajang bergengsi. Dari sini saya seperti sedang menapaki cita-cita sebagai seorang pemain bola. Jalan itu sepertinya akan mulus ketika saya masuk dalam tim inti dan berposisi sebagai gelandang serang.

Kami latihan pagi dan sore hari. Sebagai seorang siswa yang duduk dibangku kelas dua SMA ketika itu, saya mendapat kompensasi selama sebulan tidak belajar. Saya senang sekali. Lalu saya masuk training centre. Karena klub daerah, maka Persidago memakai dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Uang publik. Setiap hari dapat uang saku Rp 12.500. Ketua umum Persidago saat itu menjabat sebagai kepala Dinas PU.

Usai latihan pagi, biasanya kami sarapan. Namun kami mendapati meja makan yang sudah disiapkan itu, dijejali oleh ibu-ibu yang ikut mengembat makanan kami.

“Siapa mereka?” tanya saya kepada seorang kawan.

“Biasa, ibu-ibu PKK,” jawabnya.

Kawan saya ini langganan di tim Persidago junior. Baginya sudah biasa ibu-ibu dharma wanita itu mengambil jatah sarapan pagi pemain bola. Saya hanya tersenyum. Lalu, perlahan demi perlahan, saya mulai tahu praktek curang dalam sepak bola. Salah seorang striker kami ketika latihan, ia susah mengontrol laju bola. Tinggi badannya sebenarnya ideal, sayang ia lemah. Gampang jatuh. Tidak berkualitas. Tak cocok jadi pemain sepak bola.

“Gimana caranya dia bisa lolos masuk dalam tim kita?” tanya saya.

“Kakeknya salah seorang pengurus sepak bola dan tokoh partai politik,” kata kawan.

Dalam sepak bola, dikenal ada yang namanya pemain titipan. Salah satunya striker kami tadi. Tapi ia jarang dimainkan oleh pelatih. Lebih banyak jadi pajangan. Cadangan mati. Dan kasus lainnya yang sering terjadi, beberapa pemain dalam tim kami ternyata sangat bermutu alias bermuka tua. Usia mereka melebihi 19 tahun, tidak sesuai regulasi. Mereka berhasil menyembunyikan identitas. Caranya, mereka memalsukan ijasah. Dan ini dibantu oleh orang-orang yang ada dalam tim sendiri. Saya tak tahu apakah cara yang sama juga dipakai oleh tim-tim lainnya.

Lalu ketika pertandingan itu tiba, kami justru jadi bulan-bulanan. Saat melawan Persbit Bitung, kami kalah 1-3. Menjamu klub se-kota Persigo Gorontalo, kami dibantai 4-0. Kami hanya menang tipis 1-0 melawan Persibom Bolaang Mongondow. Itu pun golnya dari titik putih, dan prosesnya sangat unik. Ketika saya berlari mengejar bola, seorang pemain belakang Persibom berupaya menghambat. Gelang besi putih yang saya kenakan di tangan kanan, pengaitnya masuk kaus pemain itu. Wasit melihat dari sisi yang berbeda. Gerakan pemain Persibom seolah menarik tangan saya. Saya terjatuh dan wasit yang seorang polisi itu menunjuk sebelas pas. Pemain Persibom protes. Tapi wasit tetap dengan pendiriannya.

Meski demikian, kami tak lolos ke babak berikutnya. Mimpi bermain di tanah Jawa kandas. Dari sini saya kecewa dan mulai sadar diri. Cita-cita ingin jadi pemain sepak bola professional sepertinya harus dibuang jauh-jauh. Lebih baik saya main antar kampung.

***

Pada sebuah kesempatan ketika saya menjadi wartawan Tempo, saya dan beberapa wartawan mendapat penugasan dari Jakarta. Tugasnya meliput soal klub-klub sepak bola yang menggunakan dana APBD dan terlibat korupsi, suap, atau pengaturan skor. PSSI yang saat itu dipimpin Nurdin Halid, menjadi sorotan. Banyak desakan dia harus mundur. Bahkan ada kaos yang mencetak tulisannya “Jauhkan Kami dari Nurdin yang Terkutuk” atau “Nurdin Mafia KoruPSSI”. Lalu ada dua nama yang bertarung kuat menjadi pemimpin PSSI; Arifin Panigoro dan Goerge Toisutta. Kompetisi sepak bola kemudian terbelah dua; Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia.

Saat penugasan dari Tempo itu, bagian saya meliput klub Persma Manado, sebab ketika itu wilayah liputan hingga ke Sulawesi Utara. Sementara saya berdomisili di Gorontalo. Manager Persma ketika itu adalah Roni Pangemanan, kini wajahnya sering muncul di layar tv menjadi komentator pertandingan liga dunia. Sayang, sebagai narasumber utama, saya tak mendapati Roni Pangemanan. Waktunya lebih banyak di Jakarta ketimbang Manado.

Lalu saya menawarkan meliput soal klub kebanggaan kota saya yang main divisi utama, Persigo Gorontalo. Saya mendatangi manager klub. Awalnya saya menanyakan bagaimana perlakukan tim tuan rumah ketika Persigo bermain di kandang lawan.

“Kami sering dicurangi wasit. Pernah dalam satu pertandingan, skor imbang hingga waktu normal. Lalu injury timenya 5 menit. Hingga lima menit waktu tambahan habis skor masih imbang. Tiba-tiba asisten wasit angkat lagi papan tambahan waktu sampai terjadinya gol. Pokoknya kalau tidak terjadi gol dari tuan rumah, pertandingan tidak selesai. Kami protes, tapi tidak merubah keadaan,” kata dia.

“Lalu, bagaimana kalau Persigo main di kandang sendiri”

“Kami balas. Wasit kami biayai akomodasinya. Pernah ada wasit yang minta perempuan, kami carikan dia perempuan. Asalkan kami harus menang.”

“Tapi ini jangan diberitakan. Awas! Kalau ada beritanya, ratusan suporter siap-siap mencari kamu,” katanya mengancam.

Saya bernegosiasi, lalu menawarkan kalau berita akan ditulis, tapi namanya akan dianonimkan saja. Dia menolak. Dia tak mau lagi diwawancara, termasuk pertanyaan-pertanyaan soal penggunaan dana APBD bagi sepak bola. Saya tidak mendapat cerita yang kuat dan dalam. Ini tentu tidak bagus buat tulisan saya nanti. Juga soal keamanan saya yang tidak bisa dijamin. Saya lalu memberitahukan kepada redaktur di Jakarta. Dan memang seperti yang sudah diduga, cerita bobrok sepak bola dari Gorontalo dan Manado dihilangkan.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya di bulan Januari 2011, Majalah Tempo menurunkan edisi khusus tentang korupsi sepak bola di Indonesia. Sampulnya punggung seorang pemain dengan jersey merah dan ada bayangan garuda, tangan kirinya memegang bola, lalu di jersey itu tertulis, “KoruPSSI”, dengan sub judul: Priiiit…! Banyak sandiwara di lapangan bola.

Laporan teman-teman saya dari beberapa daerah tentang borok sepak bola Indonesia jadi bahan tulisan di majalah itu. Kondisi itu terjadi lagi sekarang, dan berujung pada pembekuan PSSI oleh FIFA (Belakangan kasus korupsi juga menyerang petinggi FIFA).

Pemain sepak bola banyak yang menganggur. Terkecuali mereka yang bermain di klub yang ikut kompetisi sesaat; Piala Presiden, Piala Sudirman, Bali Island Cup, dan sekarang Piala Gubernur Kaltim. Tak ada kompetisi regular. Petinggi-petinggi PSSI terlibat perselisihan dengan menteri olah raga. Mereka saling serang.

Kalimat Tommy Latuperissa di malam itu kembali menohok kepala saya. Tommy berkata, sepak bola Indonesia tidak akan maju kalau olah raga ini dipakai sebagai percaturan politik untuk organisasi-organisasi masing-masing. Padahal yang sebenarnya politik tidak harus mencampuri soal olah raga.

“Mental dan nasionalisme pemain rusak oleh karena para pemain dan pemimpin terlibat dalam penyuapan alias berjudi.”

Tommy lalu pulang menjelang tengah malam. Ia menembus dingin 7 derajat celcius, dan menyisakan pertanyaan dibenak saya. Dan seperti laporan majalah Tempo itu, bahwa sepak bola Indonesia adalah panggung sandiwara.

 

 

 

 

 

 

About the author / 

Christopel

2 Comments

  1. Rebecca July 8, 2016 at 2:15 am -  Reply

    I was just looking at your Panggung Sandiwara Sepak Bola Indonesia | site and see that your website has the potential to become very popular. I just want to tell you, In case you don’t already know… There is a website service which already has more than 16 million users, and the majority of the users are interested in topics like yours. By getting your site on this network you have a chance to get your site more visitors than you can imagine. It is free to sign up and you can find out more about it here: http://likes.avanimisra.com/4owu – Now, let me ask you… Do you need your site to be successful to maintain your business? Do you need targeted visitors who are interested in the services and products you offer? Are looking for exposure, to increase sales, and to quickly develop awareness for your website? If your answer is YES, you can achieve these things only if you get your site on the network I am talking about. This traffic service advertises you to thousands, while also giving you a chance to test the network before paying anything. All the popular blogs are using this network to boost their traffic and ad revenue! Why aren’t you? And what is better than traffic? It’s recurring traffic! That’s how running a successful site works… Here’s to your success! Find out more here: http://likes.avanimisra.com/4owu

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip