Jelajah

Melbourne, Burung Gagak dan Gorontalo

0 127
2. Burung gagak di taman Malbourne

Otopet melaju dengan kencang. Pengemudinya anak lelaki sekira lima tahun. Memakai helm dan sepatu kets, ia melaju berkeliling taman di Argyle Park, Carlton, Melbourne. Ibunya duduk di bangku sembari menjaga bayinya yang asyik bermain dalam kereta.

Dua kursi panjang menghadap jalan, ke Lygon Steet, tepat di restoran yang berjejer di kawasan Little Italia. Orang lalu-lalang di taman itu. Saya duduk sebentar di kursi itu, lalu memotret suasana sekitar; mulai dari pohon, burung, hingga beberapa pasang muda-mudi yang sedang bercengkrama di taman.

Seekor burung ketika menemani pemuda di taman.

Seekor burung ketika menemani pemuda di taman. Foto: Christopel Paino

Tak jauh dari situ, seorang pemuda dengan kepala plontos duduk sendirian. Dia makan roti. Kawanan burung datang menghampirinya. Bentuk dan coraknya seperti burung belibis. Mereka meminta makanan dari si pemuda. Gagak hitam juga ada di taman ini. Berteriak-teriak seperti sedang memantau burung belibis tadi yang memakan roti. Burung-burung ini bermain dan bertengger di pohon-pohon yang banyak tumbuh di taman.

Hari itu, Sabtu, 2 Mei 2015. Ini adalah hari pertama saya menginjakan kaki di Melbourne, Australia. Setelah sebelumnya berangkat dari kampung halaman saya, Gorontalo pada Jumat siang, 1 Mei 2015, dan transit di Jakarta, kemudian melanjutkan perjalanan lagi sekitar 7 jam ke Melbourne.

Saya berada di Melbourne, selama 5 minggu, karena mendapat fellowship short course untuk belajar jurnalisme bertajuk isu perempuan, bisnis, media dan literasi ekonomi. Selain dari Indonesia, pesertanya juga dari Timor Leste, dan Negara-negara pasifik seperti Solomond Island, Papua New Guinea, Vanuatu, serta Tonga.

Selain di Melbourne, kami juga mendatangi Canberra, ibukota Australia, dan wilayah di Albury-Wodonga. Sebelumnya dalam benak saya, ibukota Australia adalah Sydney. Beruntung saya cepat sadar.

Dari bandara Tullamarine, Melbourne, menuju Quest Apartemen, tempat saya menginap hanya sekitar 45 menit. Sepanjang perjalanan, saya melihat begitu banyak taman atau ruang terbuka hijau. Sesuatu yang kini mulai digalakan di tempat saya dan diembel-embeli dengan dua kata; smart city!  Saya penasaran ingin melihat langsung bagaimana model taman-taman yang ada di kota Melbourne.

Maka tidak lama setelah memasukan semua barang-barang di apartemen, saya langsung hunting ke Argyle Park. Tamannya sangat indah. Pohon dengan daun-daun berwarna kuning menghiasai taman. Sebentar lagi musim gugur pergi dan berganti musim dingin. Taman juga bersih. Di beberapa sudut, terdapat dua tempat sampah khusus untuk daur ulang.

Sulit mencari sampah berserakan di taman ini. Bahkan saya pernah melihat, seorang pria dengan anjing peliharaannya. Ketika anjingnya berak di taman, kotoran anjing langsung di pungut pakai plastik dan disimpan di tas kecilnya. Ia lalu duduk di kursi taman. Saya tak tahu apakah kemudian ia mencari tempat sampah untuk membuang kotoran itu atau ada tempat khusus untuk kotoran anjing.

Di taman ini, anak-anak bermain tanpa rasa takut. Selain itu, saya melihat ada beberapa orang seperti sedang mengerjakan sesuatu menggunakan labtop. Saya menduga mereka adalah mahasiswa. Sebab University of Melbourne, kampus terbaik di kota ini, juga tak jauh dari sini.

Di taman seperti ini, semua aktifitas dilakukan. Orang bisa berkumpul bersama keluarga, gelar tikar, bermain bersama binatang peliharaan, atau pacaran sekalipun di taman. Burung-burung pun akan ikut berkumpul bersama. Ada banyak jenis burung selain gagak hitam dan burung mirip belibis. Padahal, ini bukan penangkaran burung.

Kalau di Gorontalo, saya yakin ketika melihat burung banyak seperti ini, pasti sudah ditangkap dijadikan peliharaan atau malah dimasak. Tapi saya tidak sendirian berpikir seperti itu. Seorang kawan dari Timor Leste, Joanico Guiterez, mengungkapkan hal yang sama.

“Di Timor Leste juga begitu, bro. Kalau ada burung-burung seperti ini pasti langsung ditangkap,” katanya. Saya pun langsung tertawa.

Di taman saya juga melihat ada air ledeng. Airnya ternyata bisa diminum langsung. Tanpa ada rasa takut sakit perut atau khawatir kena diare. Di Melbourne tidak sulit mendapatkan air minum. Baik di taman, di rumah atau di tempat publik lainnya, semua air kran bisa diminum langsung. Pemandangan ini saya lihat di taman yang ada di Melbourne Museum. Airnya dikonsumsi oleh siapa saja, anak maupun orang dewasa.  Kalau ada yang merasa perutnya bermasalah dengan air kran, bisa menggugat ke pemerintah setempat.

Namun soal air ini, pemerintah setempat punya kebijakan yang unik. Kata Natalia Gould, Project Officer di Asia Pacific Journalism Centre (APJC), pemerintah federal sangat menghargai air jangan sampai ada pemborosan. Salah satunya adalah kebijkan melarang orang menyiram bunga di jam-jam tertentu, misalkan dari jam 8 pagi sampai jam 11 siang.

Pohon-pohon besar tumbuh tidak hanya di taman. Tapi juga bisa ada di pinggir jalan umum. Pohon ini saya perhatikan daunnya mirip dengan daun yang ada pada bendera Canada. Pohonnya besar dan rindang. Secara otomatis, burung banyak bertengger di sini. Kalau di Gorontalo, pohon yang ada di pinggir jalan utama ditebang karena proyek pelebaran jalan. Kalau musim kemarau, bisa dibayangkan bagaimana panasnya Gorontalo yang dilintasi garis khatulistiwa itu.

Selain itu, pemandangan pohon-pohon besar juga nampak di pasar. Seperti di Queen Victoria Market, semacam pasar tradisional atau mirip kaki lima di Indonesia. Di pasar ini, selain ramai oleh transaksi penjual dan pembeli, juga ramai oleh burung-burung.

Awalnya, ketika pertama datang di taman Argyle Park, saya menduga burung gagak hitam yang suka berteriak-teriak itu hanya kebetulan bertengger atau nyasar saja. Namun setelah melihat banyak burung gagak di pasar Queen Victoria Market dan di depan tempat tinggal saya di Quest Apartemen, saya langsung hakul yakin bahwa burung apa saja punya kebebasan untuk hidup di sini, layaknya manusia.

Kalau di Gorontalo, saya nyaris tak pernah melihat burung gagak berada di tengah kota atau di tempat umum.  Saya lebih sering melihat burung gagak hitam ini di kampung di pinggiran gunung atau hutan. Kalaupun ia hadir di tengah masyarakat, maka burung gagak ini dianggap membawa kabar kurang sedap, misalkan; ada keluarga yang meninggal.

Melihat burung gagak yang banyak terbang kesana-kemari dan gedung-gedung tua dengan arsitektur eropa klasik di Melbourne, ingatan saya langsung pada film Harry Potters dan film-film macam The Hobbit atau Lord of The Rings, yang sering saya nonton dari hasil copian download seorang kawan. Saya kadang suka berpikir, kapan ya Gorontalo bisa seperti Melbourne? Burung saja punya hak hidup yang layak, apalagi manusianya.

Itu yang saya lihat tentang kota Melbourne baru dari sudut pandang taman yang hijau dan burung-burungnya. Tentu saja udara di sini dijamin sejuk dan bebas dari polusi.

Membahas Melbourne seperti tak ada habisnya. Belum lagi soal transportasi publik yang tidak saja nyaman dan bebas macet, tapi juga sangat accessible atau mudah diakses oleh orang difabel atau yang berkebutuhan khusus, atau bagi orang tua dan anak-anak.

3. Taman di malbourne

Taman di Argyle Park, Carlton. Anak-anak bermain tanpa ada rasa takut. Foto: Christopel Paino

Melihat langsung dan merasakan kehidupan di kota Melbourne meski hanya singkat selama 5 minggu, maka saya semakin yakin dengan predikat bahwa Melbourne adalah kota ternyaman dan paling layak di huni di dunia. Predikat ini sudah melekat sejak tahun 2011 hingga 2014 menurut majalah The Economist. Dan untuk tahun 2015 ini, penilaiannya masih berlangsung.

Tentu akan sangat berlebihan jika saya membandingkan Melbourne dengan Kota Gorontalo, yang saat ini sedang lucu-lucunya membangun image sebagai kota dengan slogan Smart City. Seorang kawan di Gorontalo bilang, “Jangan samakan Gorontalo dengan bule di sana (orang di Melbourne). Dorang (mereka) punya kesadaran tinggi.”

Saya jadi ingat materi kelas Nigel McCharty, jurnalis senior di Australia, yang mengajarkan tentang perempuan dalam media dan peliputan bisnis kepada kami. Nigel bilang kalau kesadaran masyarakat itu karena adanya kontrak sosial. Kesadaran sosial yang tidak dilembagakan. Orang akan saling menghargai satu sama lain; antara pejalan kaki dan pengguna kendaraan seperti mobil. Kalau kita pasti sudah saling memaki di jalan.

Saya sadar diri memang, berlebihan jika membandingkan Melbourne dan Gorontalo. Kenapa tidak membandingkan Melbourne dengan kota besar lainnya di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, atau Makassar. Tapi saya lahir dan besar di Gorontalo, maka sudah sepantasnya saya akan membandingkan Melbourne dengan tempat kelahiran saya.***

Tulisan ini dimuat di australiaplus.com

About the author / 

Christopel

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip