Jelajah, Kasatmata

Balada Bajo di Tanjung Siaje

0 223
2

 

Bagian-bagian runtuh; pusat tak dapat bertahan;…

Air pasang bermerahkan darah terlepas, dan di mana-mana

Upacara kesucian tenggelam.

***

Suatu pagi di tahun 1901. Orang-orang berdatangan pada sebuah tanjung. Dayung tak lagi dikayuh hingga Sope tertambat karang-karang yang surut.

Sope, perahu sakral itu sepertinya tidak akan menjadi Leppa. Karena di tanjung, pintu telah mengulurkan tangan pada orang-orang itu. Harapan besar memendam di situ. Leppa yang selayak kondominium beratapkan langit tempat memori tersusun rapi, mereka akhiri di sini. Keputusan sudah bulat!

Orang-orang Bajo. Begitu nama yang disematkan pada diri mereka. Ada pula yang menyebut Bajau. Tak sedikit jua yang bilang perompak laut. Namun semua sepakat bahwa mereka adalah pengembara laut handal dan tersebar hingga belahan bumi lain. Mereka ada di Fhilipina, Australia, Brunei Darrusalam, dan Malaysia.

Di Indonesia, diaspora Bajo ada di Sumatera hingga bagian timur Indonesia; Sulawesi hingga Nusa Tenggara. Mereka menetap di kepulauan, wilayah pesisir, bahkan di perairan laut.

Kehadiran orang-orang Bajo adalah sebuah penanda bahwa laut memiliki misteri. Bagi mereka laut adalah sebuah harta karun. Laut adalah halaman tempat anak-anak mereka bermain. Laut adalah ibu yang harus mereka rawat. Sebuah riwayat yang harus mereka jaga. Dan di tanjung, hati orang-orang Bajo tertambat.

Di tanjung itu, mereka menyebutnya Toro. Awalnya adalah sebuah persinggahan. Siaje, begitu kata mereka. Namun dari persinggahan; perlahan, perlahan, dan perlahan menjadi junjungan hati. Leppa menjadi nostalgia. Keping-keping cerita yang menjadi dongeng pengantar tidur kepada anak-anak mereka. Bahwa nenek moyang kami dahulu berumahkan perahu, barangkali semacam bahtera Nuh.

Layar memang sudah terkembang. Namun hidup mereka ditautkan di sana; di Tanjung Siaje. Pantang bagi mereka surut ke belakang. Karena bilik-bilik telah berdiri. Mereka beranak pinak. Membangun kembali memori sembari menjunjung tradisi dan kearifan warisan nenek moyang. Upacara-upacara digelar. Tak ada yang berani melanggar.

Warga Bajo di Torosiaje. Foto: Rivol Paino

Warga Bajo di Torosiaje. Foto: Rivol Paino

Harmoni pun dirajut di Tanjung Siaje. Ombak-ombak mengalun laksana guling meninabobokan di siang hari. Bakau-bakau tumbuh subur. Karang-karang pantang dipancung. Sebab nilai-nilai spritual ada didalamnya. Butuh kepatutan mengambil dari alam. Jika tidak, sang tetua akan marah dan leluhur menjadi murka.

Oleh sebab itulah ikan-ikan melimpah ruah di Tanjung Siaje. Pun lola dan lobster. Semua didapat dengan mudah. Berkat laut yang diperlakukan dengan ramah. Tak ada yang marah. Anak-anak Bajo hidup berlimpah protein. Bermain penuh riang sembari menari di atas perahu. Lalu mencebur pada laut dengan gembira.

Laut memang halaman yang luas. Tak terbayangkan dalam benak kaki-kaki Bajo itu menyentuh tanah.

Namun waktu itu tiba juga. Di siang yang panas pada 1982, orang-orang berpakaian necis dari departemen sosial. Mereka mengusung proyek negara dengan dalih peradaban. Mereka hendak mendaratkan orang-orang laut itu. Bagi mereka Bajo adalah suku terasing. Ini aneh. Siapa sebenarnya yang asing? Bukankah orang-orang departemen sosial itu adalah asing bagi Bajo? Atau barangkali karena tak menginjak tanah, perlu diperkenalkan seperti apa cinta tanah air itu?

Anak-anak Bajo di Torosiaje. Foto: Rivol Paino

Anak-anak Bajo di Torosiaje. Foto: Rivol Paino

Bajo tak bisa berbuat apa-apa melawan kuasa negara. Pemukiman yang diberi nama suku terasing pun akhirnya berdiri. Mereka berhasil membujuk 120-an kepala keluarga Bajo untuk hidup di darat, di pemukiman itu. Departemen sosial seperti berniat memisahkan orang Bajo dengan mitologi lautnya.

Namun ternyata, fasilitas yang dibangun sangatlah buruk. Sebagian kembali ke laut. Orang-orang departemen sosial tak mau kalah; terus membujuk. Mereka melakukan tahap demi tahap. Dan tahun demi tahun, proyek mendaratkan orang-orang Bajo pun berhasil dilakukan. Hingga saat ini.

Syahdan, di saat orang Bajo beradu dengan orang departemen, di saat yang sama banyak pendatang ke Tanjung Siaje. Mereka melihat bahwa orang Bajo eksotic. Ada yang kawin mawin. Menciptakan kolaborasi DNA. Manusia-manusia baru lahir dari generasi Bajo Tanjung Siaje. Namun ada yang lalai. Norma-norma yang dijunjung mulai luntur. Kearifan menjaga laut yang diamanatkan nenek moyang, mulai pudar. Cara-cara instan mengambil hasil alam diperkenalkan orang luar, kemudian dipraktekan orang Bajo sendiri; bom, potas, menebang bakau, memancung karang, berhasil merasuki otak mereka.

“Orang Bajo adalah pelaku illegal fishing. Mereka suka bom ikan. Mereka merusak karang.”

 

Sejak itulah, pelabelan ini sering ditancapkan pada setiap dada orang Bajo.

Bukankah mereka menjadikan laut adalah ibu? Bukankah laut adalah halaman bermain bagi anak-anak Bajo? Sebegitu teganya kah orang Bajo hingga merusak halaman mereka sendiri? Sedurhaka itukah orang Bajo hingga melukai ibu mereka sendiri?

***

6

Pintu masuk kampung Bajo di Torosiaje. Foto: Rivol Paino

Perahu bermesin ketinting itu mulai melambat saat memasuki pintu masuk di perkampungan Bajo, di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Sebuah tulisan, ”Welcome to Bajo” terpampang jelas pada papan gapura di pintu masuk kampung. Seolah menyambut perahu yang dinaiki oleh beberapa orang itu, dan mulai menepi di tiang-tiang penyangga rumah Bajo.

Perahu itu sudah biasa lalu lalang di perkampungan Bajo. Warga disana menyebut perahu-perahu seperti itu dengan nama Ojek. Perahu ojek itulah yang menjadi alat transportasi yang menghubungkan masyarakat Bajo yang tinggal di pemukiman di atas laut dengan wilayah daratan. Tarifnya sangat murah. Sekali naik, hanya dimintakan bayar Rp 3.000 per kepala.

Desa Torosiaje, belakangan mulai dikenal masyarakat luas setelah ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah Gorontalo. Sudah banyak pelancong yang berkunjung ke Torosiaje.

Desa ini letaknya berada di sebuah tanjung – bagian pantai atau daratan yang menjorok ke laut – dengan luas 200 hektar. Pemukiman warga di desa ini semuanya berbentuk rumah panggung yang menjadi ciri khas masyarakat Bajo. Kampungnya pun sangat unik karena berbentuk huruf U dan menghadap tepat dibibir Teluk Tomini.

Anak-anak bermain di jembatan. Jembatan ini merupakan jalan utama di perkampungan Bajo yang menghubungkan antar rumah penduduk yang berjumlah 300-an unit itu, juga sebagai penghubung dusun Bahari Jaya dengan dusun Mutiara. Tak jarang, jembatan kayu itu pula menjadi tempat berkumpul keluarga, sekaligus halaman bermain bagi anak-anak tadi. Para pedagang, selain berjualan di perahu, juga lalu lalang di sini.

Di depan perkampungan ada dua buah pulau: Iloluta dan Ilosangi. Namun masyarakat Bajo hanya menamakan pulau tersebut dengan nama Pulau Kecil dan Pulau Besar. Desa Torosiaje saat ini dihuni oleh berbagai suku, diantaranya adalah suku Bajo, Gorontalo, Bugis, Kaili, Mandar, serta suku Minahasa. Akan tetapi bahasa pengantar mereka sehari-hari adalah bahasa Bajo.

***

Salah seorang nelayan Bajo di Torosiaje. Foto: Rivol Paino

Salah seorang nelayan Bajo di Torosiaje. Foto: Rivol Paino

Suatu malam di penghujung tahun. Seorang lelaki berkaos putih lusuh memakai sarung muncul dari kegelapan. Tangan kanannya memegang jala berisi ikan terbang yang berjumlah sekira lima belas ekor. Sementara di tangan kirinya, rokok masih terus menyala. Sambil sesekali lelaki itu menyeruput asapnya.

Ia baru saja kembali dari mencari ikan di perairan laut Teluk Tomini. Tanpa alas kaki, lelaki itu menelusuri tanah berkontur keras. Ia hendak pulang ke rumahnya di darat. Ia berpisah pada sebuah jalur bakau dengan teman lainnya yang menetap di laut.

”Sekarang susah mencari ikan. Cuaca tidak menentu,” kata lelaki itu.

Angin memang sering bertiup kencang malam itu. Cuaca tak menentu membuat nelayan Bajo Torosiaje kesulitan mencari ikan. Dalam kalender musim mereka mengenal dua macam; angin timur yang biasanya terjadi pada bulan-bulan April, Mei, Juni, Juli, Agustus, dan September. Dan musim angin barat, yang biasanya terjadi pada bulan Oktober, November, dan Desember. Musim angin barat ini menjadi momok buat orang Bajo Torosiaje.

Orang Bajo mengenal musim angin barat sebagai musim angin janda. Ihwalnya, ketika turun melaut, bisa saja nelayan tidak pulang-pulang. Setelah diselidiki, para nelayan yang tak pulang ini ternyata dihantam badai. Dan istri yang ditinggal di rumah pun, akhirnya menjanda.

”Saat ini wilayah tangkapan semakin jauh. Bahkan harus masuk ke Sulawesi Tengah,” kata lelaki itu. ”Kalau dulu, waktu saya kecil, ikan dengan mudahnya ditangkap. Cukup depan kampung saja.”

Perkampungan Bajo di Toroisaje. Foto: Rivol Paino

Perkampungan Bajo di Toroisaje. Foto: Rivol Paino

Nasib telah membawa orang-orang Bajo pada kesukaran. Mereka berperang dengan diri mereka sendiri. Bahkan untuk mempertahankan riwayat kearifan leluhur pun semakin sulit. Orang-orang Bajo seperti tak mengenal ibu mereka sendiri. Kisah pengembara laut ulung itu seolah digulung ombak. Ritual-ritual itu, pelan dan pelan mulai menghilang.

Dan seperti kata penyair Irlandia, William Butler Yeates; Air pasang bermerahkan darah terlepas, dan di mana-mana upacara kesucian tenggelam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About the author / 

Christopel

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip