Kasatmata

9 Februari: Selamat Hari Lahir PWI

0 166
Press

 

Hari ini, 9 Februari 2016, banyak macam orang berkumpul di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di channel TVRI, saya melihat orang nomor satu di kepulauan bernama Indonesia ini ada di podium. Ia sedang berpidato, tapi saya tak menangkap apa isi pidatonya. Bukan karena pidatonya jelek. Bukan! Masalahnya ada pada televisi saya. Siarannya penuh bintik mirip semut dan suaranya banyak kresek-kreseknya. Saya mengambil remote dan memutuskan untuk mematikan TV.

Jari-jemari tangan ini lalu mengajak agar membuka layar gadget, dan di bilik-bilik watsap saya menemukan ramai nian kabar soal para wartawan yang hadir sekaligus meliput acara itu. Jokowi hadir di sana, ia ikut merayakan apa yang mereka sebut dengan hari pers nasional.

Hari pers nasional? Ah, ini barang sebenarnya ritual yang mengulang-ulang dan tak menyentuh substansi persoalan pers di Indonesia. Ini perayaan hore-hore dan menggunakan uang rakyat. Sekali lagi, uang rakyat, loh!

Lagi pula, sejak beberapa tahun lalu polemik penetapan hari pers nasional ini sudah diributkan. Dan saya adalah satu dari sekian banyak yang tak setuju dengan penetapan tanggal 9 Februari ini sebagai hari pers nasional.

Sebagaimana pertanyaan yang sudah jamak; apa coba alas berpikir bahwa tanggal 9 Februari sebagai hari pers nasional? Bukankah itu adalah hari lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), 9 Februari 1946?

Namun penetapan hari pers nasional ini baru dilaksanakan sejak tahun 1985, menyusul dengan keluarnya surat keputusan presiden Soeharto. Ini juga berdasarkan bisikan cihua-hua-nya ketika itu yang adalah menteri penerangan. Apalagi saat itu, Soeharto tangannya terbuat dari besi. Agar kekuasaannya tetap langgeng, ia harus mengontrol wilayah dan orang-orang yang ada di Sabang hingga Merauke, termasuk Timor Leste ketika itu, dengan mengupayakan semua organisasi haruslah tunggal. Dan PWI adalah satu-satunya organisasi kewartawanan yang diakui oleh negara. Di luar itu, tentulah merongrong kekuasaannya.

Maka, alas penetapan tanggal 9 Februari itu sebagai hari pers nasional hanyalah merujuk pada ulang tahun organisasi profesi bernama PWI. Jika dihitung, tahun 2016 ini adalah ulang tahun PWI yang ke-70.

Lantas, kapan sebenarnya penetapan hari pers nasional? Ini juga adalah polemik yang tak berkesudahan. Indonesia adalah wilayah yang luas dan dihuni berbagai macam entitas di dalamnya. Semua punya narasi masing-masing tentang sejarah pers mereka.

Misalkan saja di Bandung, Jawa Barat, pada Januari 1907, lahir sebuah media bernama Medan Priyayi, yang diprakarsai oleh Tirto Adhi Suryo. Atau di Minang, Sumatera Barat, pada 7 Desember 1864, lahir Bintang Timoer, yang merupakan surat kabar berbahasa melayu. Atau yang lebih tua barangkali Bataviasche Nouvelles, yang terbit 1744-1746, di kota Batavia.

Atau yang lebih muda lagi adalah media massa terbitan tempat saya tinggal di Gorontalo. Jika dibandingkan dengan hari lahir organisasi profesi PWI, di Gorontalo jauh sebelumnya sudah punya Jurnal Ponoewa. Jurnal ini lahir pada 30 November 1932. Pada masanya, Jurnal Ponoewa bahkan telah memiliki sirkulasi yang baik yang ditunjukan dengan ruang untuk beriklan dengan berbagai macam tarifnya.

Dan saya yakin, daerah-daerah lainnya pasti punya sejarah masing-masing bagaimana surat kabar mereka hadir untuk pertama kalinya.

Lalu, siapa sebenarnya pers nasional itu? Jika melihat kondisi sekarang, kata “nasional” akan dan selalu melekat pada wilayah yang luasnya tak jauh berbeda dengan luas Gorontalo, yaitu Jakarta; sebuah provinsi yang letaknya ada di pulau Jawa. Media-media yang berasal dari Jakarta akan menyebut dirinya sebagai nasional. Misalkan untuk televisi; TV One, Metro TV, RCTI, MNC, ANTV, Indosiar, SCTV, dan sejenisnya selalu mendakwa bahwa kamilah media nasional itu. Pun dengan Kompas atau Tempo, dan semacamnya yang tak luput pula mendakwa diri sebagai koran nasional.

Saya akan setuju jika ada yang berpendapat bahwa jurnalisme memiliki nilai-nilai universal sehingga tak perlulah kita memakai semboyan-semboyan nasional itu yang mengabaikan peran masing-masing entitas yang ada di negeri ini. Dan apalagi, penetapan hari pers nasional tanggal 9 Februari itu hanyalah hari lahir PWI.

So, selamat ulang tahun PWI yang ke-70. Tiup lilinnya, dan jangan lupa potong kuenya.

 

 

 

About the author / 

Christopel

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip