Jelajah, Kasatmata

Kisah Punan

2 213
Tarian dayak ketika menyambut kedatangan saya di kampung dayak Punan Adiu. Foto: Christopel Paino

Pada suatu siang, di penghujung Februari 2015. Saya berada di Kabupaten Malinau, sebelah utara bagian Kalimantan. Dahulunya, Malinau adalah bagian dari Kalimantan Timur yang beribukotakan Samarinda. Wilayah ini cukup dekat dengan Malaysia. Kebutuhan harian masyarakatnya, biasanya diimport dari negeri seberang, seperti gula, sabun, hingga makanan ringan. Dan yang terpenting, semua barang import itu murah dibandingkan barang dari Jawa.

Saya kira, cuaca Malinau tak jauh beda dengan Gorontalo yang memiliki dua musim; panas dan panas sekali. Di kantor bupati Malinau, yang ornamen bangunannya penuh pernak-pernik adat dayak, juga sangat jarang pepohonan. Di depan kantor itu, jalan di aspal mulus dengan lebar mirip run away pesawat terbang. Sopir yang membawa saya bercerita, kalau jalan sengaja dibuat seperti itu, dengan tujuan, ketika sewaktu-waktu terjadi perang dengan tetangga Malaysia, maka jalan di depan kantor bupati itu siap menjadi landasan pesawat tempur.

Durasi saya di kota Malinau sebenarnya tidak lama, hanya setengah hari, saya kira kurang objektif untuk menilai suatu kota dengan sesingkat itu. Kota Malinau hanyalah tempat persinggahan. Tujuan saya sebenarnya adalah menuju sebuah hutan, yang di sana menetap masyarakat adat Dayak Punan Adiu.

Jarak dari Kota Malinau ke Dayak Punan sekira dua jam lebih. Seperti jamak di belahan Indonesia, jalanan akan bagus jika masih berada pada kawasan yang disebut kota. Makin jauh meninggalkan Malinau, jalanan semakin terjal dan berbatu. Beberapa kali mobil yang saya tumpangi berpapasan dengan truck berukuran besar. Truck-truck itu mengangkut batu bara, dan menyisakan debu hingga menutupi jarak pandang mobil kami. Jika sudah begitu, maka tak ada pilihan selain berhenti.

Beberapa kali mobil juga seperti sedang menanjak. Dari sini, saya melihat belantara Kalimantan seperti dalam film-film Hollywood dengan setting hutan rimba. Pada sore hari, matahari memandikan cahayanya yang kemuning dan keluar di antara sela pepohonan raksasa. Tutupan hutannya sangat bagus.

Namun sebenarnya, hutan Kalimantan sedang terluka. Dan pada beberapa tempat yang masih bagus, kini menjadi sasaran korporasi ekstraktif. Sebutlah perkebunan sawit dan batu bara. Inilah yang menjadi tujuan saya mendatangi Kalimantan. Menulis perjuangan dan perlawanan masyarakat adat terhadap kuasa modal yang datang ke tanah-tanah leluhur mereka.

Kampung itu adalah Dayak Punan Adiu, salah satu sub suku dayak yang banyak berdiaspora di tanah Kalimantan. Saya tiba di kampung ini ketika gelap mulai merangkak. Tidak lama setelah bersalaman dengan ketua adat dan kepala kampung, saya dan teman-teman ternyata disambut dengan ritual.

Ritual pertama adalah ikat manik. Tangan kanan kami diberi gelang manik berwarna-warni. Saya mendapat giliran pertama. Saat mengikat gelang ini, tokoh adat mengatakan kalau arti dari pemberian gelang adalah; saya dan kawan-kawan sudah diterima di kampung dayak Punan dan telah menjadi bagian dari keluarga mereka.

Prosesi kedua yaitu tarian khas dayak. Sang perempuan memakai pakaian berwarna-warni dan kedua tangannya memakai bulu serupa kipas dari sayap burung, juga di kepala yang dihiasi mahkota. Pun begitu dengan penari lelaki. Ia memakai Mandau, senjata khas dayak. Keduanya menari di hadapan kami. Mereka sangat gemulai. Sangat indah. Musik Sape diputar pakai pengeras suara.

Dan ritual adat yangt terakhir, sebagai penutup, kami harus mengikuti salah satu ritual adat yang sangat sakral. Bagian ini adalah favorit saya; minum Pengasih. Pengasih adalah arak yang terbuat dari fermentasi tape. Pengasihnya di isi dalam tempayan. Kata warga, pengasihnya sudah disimpan sejak berbulan-bulan, bahkan ada yang setahun. Semakin lama pengasih disimpan, maka itu semakin bagus. Untuk meminumnya harus menggunakan bambu yang bentuknya seperti sedotan.

Salah satu ritual dalam adat dayak Punan Adiu adalah minum pengasih.

Salah satu ritual dalam adat dayak Punan Adiu adalah minum pengasih.

Kami bergiliran minum pengasih. Lagi-lagi saya mendapat giliran pertama. Rasanya kecut. Saya suka. Namun teman-teman saya merasakan hal berbeda. Tapi kami senang. Semua bahagia bisa berada di antara masyarakat adat Dayak Punan. Kami benar-benar seperti saudara yang lama tak berjumpa, dan menari bersama, merasakan harmoni pada malam di belantara Kalimantan.

Setelah semalaman disambut secara adat, keesokan harinya kami diajak melihat langsung wilayah adat Dayak Punan. Untuk menuju kesana, harus menaiki perahu yang melawan arus sungai. Suasananya macam film-film di belantara sungai Amazon yang kiri-kanannya penuh pohon besar, dan di sana bersembunyi para peniup sumpit yang siap menerjang lawan-lawannya.

Ketika pikiran saya dibawa ke fantasi film-film itu, perahu yang saya tumpangi seperti mau oleng. Ternyata kami melewati sungai yang penuh batu. Beruntung pengemudi perahunya cekatan. Dan saya yakin akan kemampuan orang-orang dayak. Hutan dan sungai-sungai itu adalah tempat penghidupan mereka. Tak ada kekhawatiran kalau-kalau terjadi apa-apa terhadap saya.

Di hutan-hutan adat milik orang dayak, saya melihat langsung bagaimana mereka menjaga amanah nenak moyang, roh leluhur, untuk menjaga alam dan mewarisinya dengan baik kepada anak cucu mereka. Sementara di luar sana, orang-orang dengan pakain necis berdasi, berpikir bagaimana merampas tanah adat itu untuk meraup pundi-pundi uang demi hasrat keserakahan mereka. Namun, keteguhan hati dari masyarakat adat dayak di Punan Adiu ini telah berhasil melawan keserakahan itu. Hutan mereka terus terjaga.

Usai merekam bagaimana masyarakat adat dayak melawan kuasa modal, saya memutuskan untuk balik ke Malinau, kemudian melanjutkan perjalanan pulang, dan menuliskan kisah perjuangan mereka dalam mempertahankan kedaulatan orang-orang dayak, agar semua orang tahu.

Perjumpaan itu sungguh mengasyikan. Gelang yang diberikan ketua adat dalam prosesi ikat manik itu, hingga kini masih melingkar di lengan kanan saya.

 

About the author / 

Christopel

2 Comments

  1. Usman Dunda January 30, 2016 at 9:21 am -  Reply

    I Love Borneo.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip