Jelajah, Kasatmata

Batas

1 134
1. Batas

Tengoklah peta Papua, dan simak baik-baik batas negara sesama saudara Melanesia mereka, Papua New Guinea. Batas politik ini seperti kita menyuruh anak SD membuat garis lurus pada selembar kertas memakai mistar. Ini berbeda dengan batas negara pada umumnya yang mengikuti kontur alam.

 

Warga dari Papua, Indonesia, sering ke perbatasan. Warga dari Papua New Guinea pergi ke wilayah Indonesia untuk berbelanja atau pun sebaliknya. Foto: Christopel Paino

Warga dari Papua, Indonesia, sering ke perbatasan. Warga dari Papua New Guinea pergi ke wilayah Indonesia untuk berbelanja atau pun sebaliknya. Foto: Christopel Paino

Di akhir November 2015, saya berkesempatan melihat langsung perbatasan antara pulau barat bagian Papua (West Papua) dan Papua New Guinea. Lokasinya hanya berjarak sekira dua jam dari Kota Jayapura. Melihat perbatasan ini, saya teringat bagaimana cerita tentang tembok Berlin pada tahun 1961. Tembok itu didirikan untuk memisahkan sekaligus mengisolasi Berlin Barat yang dikontrol oleh Prancis, Amerika, dan Inggris, dari wilayah Jerman Timur.

Barangkali ini mirip dengan kondisi sekarang, dimana Papua Barat dikuasai oleh Indonesia dengan sokongan negara-negara barat yang menancapkan VOC-VOC-nya di tanah Papua. Hingga saat ini Papua adalah wilayah terlarang bagi jurnalis asing, dan itu mengapa ia seperti terisolasi di mata internasional.

 

Di perbatasan, di daerah Skouw, para pelintas batas baik dari Papua New Guinea maupun Papua bisa keluar-masuk hanya dengan memperlihatkan kartu identitas, dengan penjagaan ketat dari tentara bersenjata, juga polisi. Mereka biasanya membeli kebutuhan barang harian.

Tiga orang perempuan asli Papua membeli souvenir kepada pedagang dari Papua New Guinea. Foto: Christopel Paino

Tiga orang perempuan asli Papua membeli souvenir kepada pedagang dari Papua New Guinea. Foto: Christopel Paino

Di Papua New Guinea, barang-barangnya termasuk mahal. Untuk satu tas noken buatan mereka, harganya 200 Kina, jika dirupiahkan setara Rp 800.000. Mama-mama Papua menjual noken harganya hanya seratusan ribu rupiah saja. Ini menyebabkan banyaknya pelintas batas dari Papua New Guinea yang membeli kebutuhan mereka di wilayah Papua.

 

Perbatasan ini sering didatangi para pelancong. Orang Indonesia sering berfoto-foto melihat wilayah yang masuk administrasi Papua New Guinea, yang banyak menjual souvenir. Di sini, hari-hari yang ramai pedagang adalah Selasa, Kamis, dan Jumat. Pun sebaliknya, orang Papua New Guinea sering berfoto-foto pula melihat seperti apa rupa Papua saudara Melanesia mereka, yang dikuasai Indonesia itu.

Perempuan Papua New Guinea menjual pisang goreng dan daging domba. Foto: Christopel Paino

Perempuan Papua New Guinea menjual pisang goreng dan daging domba. Foto: Christopel Paino

 

Saya melihat perempuan-perempuan asli Papua yang datang ke perbatasan ikut berfoto-foto dan menawar harga noken serta kaos. Warga Papua New Guinea menjual dagangannya di tempat yang menyerupai gubuk. Selain souvenir seperti gelas, topi, kaos, bendera, mereka juga menjual makanan seperti daging domba dan bahkan pisang goreng.

Di perbatasan ini, adalah titik awal garis lurus yang ditarik ke bawah hingga ke Merauke. Sebuah garis batas politik yang dibuat oleh manusia-manusia, namun tidak melibatkan manusia dari Papua itu sendiri.

 

About the author / 

Christopel

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip