Kasatmata

Bertemu Filep Karma

2 144
Satu jam ketemu Filep Karma

Pasca pembunuhan Theys Hiyo Eluay pada peringatan hari pahlawan 10 November 2001, muncul satu nama yang telah menjadi simbol perlawanan rakyat Papua. Dia adalah Filep Karma, yang banyak menghabiskan waktunya di penjara.

Bagi pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, lelaki bernama lengkap Filep Jacob Semuel Karma ini dianggap orang berbahaya, hanya karena memperingati ulang tahun kedaulatan orang-orang Papua yang selalu dirayakan setiap tanggal 1 Desember. Pada akhirnya, peristiwa yang ia rayakan pada 1 Desember 2004 di Abepura itu pula yang menjeratnya dengan vonis 15 tahun penjara.

Sebelumnya, Filep Karma memulai aksi damainya dengan mengibarkan bendera bintang kejora di Tower Air di kota Biak pada 1998. Aksi yang dikenal dengan peristiwa Biak itu, membuat banyak orang mati karena dibunuh oleh militer Indonesia. Filep sudah sering keluar masuk penjara. Ia bahkan pernah tertembak di kaki.

Selama di penjara, Filep Karma tidak pernah menerima remisi. Ia beranggapan, jika menerima potongan masa tahanan itu, justru mengakui kesalahannya. Filep Karma orang yang teguh dengan pendirian. Namun, pada 19 November 2015, ia dibebaskan secara paksa dari penjara Abepura di Jayapura.

Sembilan hari setelah pembebasannya itu, tepatnya pada 27 November 2015, saya berkesempatan ketemu dengan Filep Karma. Pertemuan dengan Filep Karma bisa terjadi karena peran Ruth Ogetay, perempuan asli Papua yang menjadi juru bicaranya, yang saya kenal lewat beberapa kali pertemuan di Jakarta.

Awalnya saya berharap pertemuan dengan Filep Karma akan terjadi di rumahnya. Namun setelah ditelpon Ruth, Filep lebih memilih bertemu di tempat lain. Ruth lalu mengajak Filep Karma ketemu di depan kantor gubernur Papua. Tempat ini sangat ramai. Posisinya menghadap laut, punya tempat duduk bersusun yang dibeton, mirip stadion sepak bola, dan sering dijadikan tongkrongan para muda-mudi. Juga ramai para penjual. Sering terdengar anak-anak kecil menjual air mineral dalam botol. Kata Ruth, anak-anak ini kebanyakan berasal dari Buton, sebuah wilayah di bagian tenggara Sulawesi. Dari sini, kerlap-kerlip Kota Jayapura terlihat penuh warna di malam hari.

Tidak lama menunggu, saya melihat seorang pria yang sangat familiar menunggangi motor Yamaha Vixion berwarna merah, tanpa memakai helm, dialah Filep Karma. Ruth bersegera melambaikan tangan sebagai kode. Melihat Ruth, Filep Karma tersenyum. Ia mendekati kami. Ruth memperkenalkan saya kepadanya. Setelah bersalaman, kami berpelukan.

Saya dan Filep Karma

Usai perkenalan itu, kami memutuskan untuk pindah tempat ngobrol. Pilihan akhirnya jatuh ke rumah makan Padang di kawasan pertokoan, tidak jauh dari Swiss Bell Hotel Jayapura. Ketika masuk ke rumah makan itu, ada beberapa orang yang sedang santap malam. Salah seorang bermata agak sipit, kulit sawo matang, badan gempal, berkemeja kotak-kotak, memperhatikan saya dan Filep Karma.

Penampilan Filep malam itu tak ada bedanya dengan ketika dia dalam penjara, mengenakan pakaian dinas pegawai negeri sipil, topi berbendera Timor Leste, jenggot dikuncir, bendera bintang kejora di dada, dan sepatu kets warna putih. Orang yang memperhatikan itu lalu menyapa Filep Karma.

“Bapak Filep, masih ingat saya?”

“Maaf, saya lupa,” kata Filep, memperhatikan lawan bicaranya.

“Saya teman lama bapak Filep. Kita pernah satu kantor dulu,” katanya.

“Aduh, minta maaf. Saya 11 tahun dalam penjara jadi butuh adaptasi untuk mengenal kembali teman-teman lama saya.”

Filep lalu menanyakan kabar teman-teman yang lainnya. Orang itu juga ternyata sudah pindah kerja ke Merauke.

Filep bercerita, setelah dipaksa bebas keluar dari penjara, ia harus napak tilas dulu ke beberapa tempat, untuk menyusun kembali memorinya setelah belasan tahun hidup dalam penjara. Filep naik motor matic jalan-jalan di kota Jayapura dan Abepura melihat perubahan apa yang telah terjadi di kotanya, hingga ia sendiri mengalami kecelakaan. Akibatnya, pelipis kanan dekat matanya lecet dan memerah mencium aspal.

Setelah Filep bebas, ia ada rencana menggelar konfrensi pers dengan wartawan pada hari senin berikutnya. Ia meminta maaf kepada saya karena tidak bisa meladeni wawancara karena sudah janji akan bicara pada saat konfrensi pers.

“Sa ingin ngobrol santai saja bapak,” kata saya.

Namun dari ngobrol santai itu, Filep bercerita tentang bagaimana pembebasannya secara paksa. Ketika itu petugas Lapas membacakan kutipan surat pembebasan dari Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham tentang daftar nama penerima remisi dasawarsa, yang didalamnya tertulis nama Filep Karma.

“Saya minta copian surat pembebasan itu tidak diberikan. Mereka minta saya segera keluar dari penjara. Saya melakukan tawaran, bagaimana kalau satu bulan dulu saya di penjara, karena saya harus beradaptasi di dunia luar, tidak bisa langsung keluar begitu saja. Tapi tetap tidak diberikan. Saya tawar lagi bagaimana kalau dua minggu, ditolak. Satu minggu, ditolak. Tiga hari saja, tetap ditolak.”

Menurutnya, surat pembebasan secara paksa itu sama dengan surat penahanannya yang juga secara paksa pada tahun 2005 silam, yang tidak pernah ia dapat.

“Pemerintah Indonesia ini tidak menghargai saya sebagai manusia. Orang utan saja, ketika dibebaskan kembali ke habitatnya di hutan, itu butuh adaptasi pelan-pelan. Tapi saya, dipaksa keluar dari penjara saat itu juga. Satu jam setelah surat pembebasan yang direkayasa itu dibacakan. Harga diri saya sebagai manusia Papua tidak lebih berharga dari pada binatang,” ucap Filep Karma.

Soal kalimat yang terakhir ini, saya jadi ingat buku Filep Karma berjudul, “Seakan Kitorang Setengah Binatang, Rasialisme Indonesia di Tanah Papua”. Buku yang menjelaskan bagaimana kekerasan tumbuh subur, mulai dari penangkapan, penculikan, hingga pembunuhan secara acak kepada orang-orang Papua, yang didasari rasialisme mendalam; orang Papua setengah binatang.

Rasialisme terhadap orang Papua ini terjadi di mana-mana di belahan Indonesia. Orang-orang pasti akan mengidentikan Papua dengan monyet, pemabuk, hitam, keriting, bau, suka berkelahi, dan sebagainya. Di buku itu pula berkisah bagaimana upaya Filep Karma yang dengan teguh memperjuangkan hak-hak kedaulatan rakyat Papua dengan cara damai, tanpa kekerasan.

“Bapak Filep, kenapa bapak selalu memakai baju PNS dan topi berbendera Timor Leste?” saya bertanya ketika perjumpaan dengan Filep Karma itu akan segera berakhir.

“Baju PNS ini sebagai simbol bahwa saya berjuang dengan cara damai,” kata Filep.

“Dan topi ini sebagai lambang bahwa saya sangat respect dengan perjuangan orang Timor Leste yang jumlahnya ketika referendum kalau tak salah 300 ribu atau 800 ribu orang saja bisa merdeka. Sementara kita orang Papua kalau tak salah 2 juta lebih, susah memperjuangkan kemerdekaan.”

Di penghujung perjumpaan itu, Filep juga bercerita statusnya sebagai pegawai negeri sipil yang belum dicabut oleh pemerintah daerah setempat, meski dia sering keluar masuk penjara berjuang atas kedaulatan bangsanya.

Bertatap muka dengan Filep Karma adalah melihat langsung guratan perjuangan melawan penindasan dan penanganan yang salah dari penguasaan berpuluh-puluh tahun Indonesia di tanah Papua.

 

About the author / 

Christopel

2 Comments

  1. Natalie April 23, 2016 at 5:02 am -  Reply

    Hi my name is Natalie and I just wanted to drop you a quick note here instead of calling you. I came to your Bertemu Filep Karma | page and noticed you could have a lot more hits. I have found that the key to running a successful website is making sure the visitors you are getting are interested in your website topic. There is a company that you can get keyword targeted traffic from and they let you try their service for free for 7 days. I managed to get over 300 targeted visitors to day to my site. Check it out here: http://nfc.lol/5cog

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter

Arsip